Configuration

"between the good and the bad is where

you'll find me reaching for heaven"















FrenshiPath

Daisypath - Personal pictureDaisypath Friendship tickers
Showing posts with label It's Just That. Show all posts
Showing posts with label It's Just That. Show all posts

Tuesday, November 29, 2016

Mari Bernostalgia: Back to Masa Putih Biru

Zaman putih biru itu dalam sejarah hidup seorang wanita dewasa (deu) seperti saya bisa dibilang zaman paling monumental. Termasuk juga masa menemukan jati diri.

Bagian monumental dalam sejarah saya ini sebetulnya erat kaitannya dengan kebiasaan dan kebisaan saya sebagai seorang siswa SMP. Masa menduduki bangku SMP ini, saya mengkategorikan diri sebagai fan berat komik Jepang, berikut anime-nya, saya juga pecinta berat novel berbau detektif dan sebangsanya, termasuk juga penikmat berat lagu Barat dan bahasanya. Salah satu bahasa yang paling saya minati kala itu adalah bahasa Inggris.

Bicara tentang bahasa Inggris, sejujurnya ini jugalah yang menjadi pelajaran favorit di sekolah. Bisa dibilang yang membuat saya bertahan di bangku pendidikan formal ini ya, pelajaran bahasa Inggris. Semacam oase begitu, hehehe. *iyah maap, ini hiperbola*

Kalau diingat-ingat, sebenarnya saya bukan yang ahli sekali bahasa Inggris masa itu, tapi entah kenapa sebagian besar teman sekolah seringnya diskusi pe-er bahasa Inggris dengan saya. Mungkin karena efek suka pelajaran ini yang sedemikian tingginya sehingga menciptakan suatu daya tarik magnetis yang membuat orang mengira saya jagonya (aih, ngomong apa ini). Dan karena pada dasarnya saya orang yang kompetitif dan tidak suka kelihatan tidak tahu, sudah pasti saya berusaha memberikan jawaban yang memuaskan pemirsa budiman…kecuali sedang “bad mood”. *ups*

Singkat cerita, zaman putih biru adalah zaman ketika saya menisbatkan diri sebagai pecandu bahasa.

Lalu bagaimana kabar pelajaran sekolah yang lainnya? Sebodo amat.  Sebagai seorang siswa yang tidak suka punya nilai jelek di akademik, sudah barang tentu saya tetap fokus belajar untuk mata pelajaran selain bahasa. Bukan rahasia lagi kan kalau siswa sekolah itu belajarnya sangat beragam, serta mesti menguasai semua tawaran pelajaran yang ada. Otomatis, pelajaran seperti matematika, fisika, kimia, biologi (IPA, kalau di SMP), ekonomi, geografi (IPS, kalau di SMP), sejarah, PPKN, agama, kesenian, dan olahraga harus bisa dikuasai. Oleh karena itu, saya di kala itu me”wajib”kan diri sendiri untuk bisa berada di 5 besar peringkat kelas. Benar-benar “mental breakdown” kalau saya mendapati diri gagal di mata pelajaran tadi. Kenapa begitu? Karena saya cuma bisanya itu, “academic-oriented”. Jujur saja, saya iri melihat orang lain yang punya keahlian yang menggunakan keterampilan fisik. Contohnya, pintar gambar (lukis, desain, arsitektur, komik, dll), pintar jahit, prakarya, atau juga pintar olahraga (termasuk senam, dll). Kesemua “skill” tadi itu, tidak satupun yang mampu saya lakukan dengan baik. Saya bisa teorinya, tapi tidak di prakteknya. *hela napas*

Kalaulah pelajaran sekolah, seperti kesenian dan olahraga, hanya mengambil nilai praktek, insya Allah kondisi rapor sekolah saya tidak bisa dibanggakan (uhuk). Sering saya merasa kurikulum pendidikan formal kita memang menguntungkan orang-orang yang “non-physical skill oriented” seperti saya. Coba misalnya guru olahraga saya fokusnya di ujian praktek, aduh duh, bisa-bisa masa putih biru saya kelam-sekelamnya (yang akan dilanjutkan kekelamannya di masa putih abu-abu).

Dulu saya sangat antipati kalau sudah masuk pelajaran olahraga (satu lagi yang bikin alergi itu matematika, tapi masih bisa ditanggulangi dengan belajar), karena mau bagaimanapun saya usaha, tetap saja “fail”. Mungkin karena ini juga, ada obsesi tersendiri untuk berhasil yang justru membuat saya suka sekali menonton segala yang berbau olahraga. Pokoknya saya tahu semua jenis olahraga, hanya jangan suruh saya praktek saja. Please!

Dalam skala 1-100, nilai praktek olahraga saya itu memalukan, karena poin 50 saja tidak pernah sampai. Lari 5 menit perut sudah kram, koprol rusak total, push-up jatuh bangun, sit-up gagal bangun, servis bola voli tidak sampai lewat net (guru saya saking frustasinya, akhirnya menyuruh saya berdiri persis depan net biar bola sukses ke area lawan), lalu giliran lari keliling sekolah saya maju duluan (niatnya supaya cepat sampai tapi…) malah tiba paling belakangan, ….dan banyak lagi kegagalan suram yang tidak bisa diceritakan satu-persatu. *ngetik ini aja saya malu berat, prestasi olahraga nol T^T

Jadi, berkat masukan nilai ujian teori, pelajaran fisik semacam olahraga ini akhirnya batal membuat merah rapor kebanggaan saya. Tapi, pernah suatu ketika saya duduk kelas 3, seharusnya nilainya merah (saya sadar itu karena praktek saya memang luar biasa buruknya, yang nilai teori pun tidak bisa menolong). Begitu saya cek rapor, ternyata saya dapat nilai kasih-sayang. Hiks, tengkyu pak guru, jasamu takkan terlupakan. Fiuhh, hampir saja merah, yah walaupun ini bukan hal yang patut dibanggakan, tapi saat itu rasanya seperti lolos dari jurang kemalangan.

Berangkat dari ketidakberdayaan fisik ini, saya sudah bertekad untuk benar-benar berhasil di ranah yang memang saya tahu caranya, seperti dunia akademik, yang Alhamdulillah saya jalani kini. Dan menurut saya, seseorang itu harus tahu batas diri masing-masing karena itu akan menjadi “stepping point” di masa depannya.

Dan kemudian, dengan segala tekad untuk bisa menjadi yang terbaik, berbagai cara saya tempuh supaya dunia akademik saya tidak mengecewakan, terutama orangtua saya yang memang “education oriented”. Apalagi dengan status saya yang anak pertama, rasanya seperti semua tumpuan harapan ada di pundak. Tapi sebenarnya, saya itu tidak suka belajar lama-lama. Paling serius bertahan setengah jam. Selanjutnya, bosan akan melanda di detik-detik belajar yang menjemukan. Terutama kalau belajar materi yang sudah-sudah. Membaca buku teks pelajaran itu bak menegak “sleeping pills”. Akhirnya untuk menyiasati kondisi bosan parah ini, saya memaksakan diri untuk mengerti satu materi dalam sekali belajar. Benar-benar maksa banget ya kan, karena pada hakikatnya tidak ada yang bisa dipahami dalam satu waktu. Semua butuh proses. Tapi saya waktu itu tidak mengerti esensi belajar yang sesungguhnya.

Hingga akhirnya, tibalah masa ujian akhir sekolah skala nasional. Sekolah saya itu berada di ibukota kabupaten, tapi tidak memiliki lembaga belajar non formal layaknya saat ini. Kalau sekarang, anak sekolah yang akan ikut Ujian Nasional pasti mempersiapkan diri benar-benar dan sampai ikut les-les intensif ujian akhir. Saya dan teman-teman dulu tidak punya hal yang membantu seperti itu. Beberapa ada yang belajar kelompok. Cuma, saya dan teman dekat saat itu memilih belajar sendiri-sendiri, karena belajar kelompok ala kami, komposisinya 10% serius bahas soal, 90% sisanya serius gosip sana-sini plus ngerujak, ngemil, dan ngunyah makanan lainnya. Maklum, perempuan, semua aja jadi bahan hehehe.

Jadi, begitulah. Saya belajar sendiri sambil terkadang diiringi musik (walau akhirnya musiknya sendiri kemana, saya sendiri sudah tenggelam kemana) dan membahas sendiri soal-soal buku kumpulan ujian akhir, dan mengerti sendiri semuanya. Baca soal sendiri, bahas sendiri, bingung sendiri, akhirnya paham sendiri. Begitu terus.

Dengan segala usaha sendirian itu, ternyata saya dapat rejeki yang tidak disangka-sangka.

Setelah selesai ujian, pasti selanjutnya harap-harap cemas dengan hasilnya. Seperti biasa, saya berharap nilainya bagus dan memuaskan. Saya sangat yakin itu karena mata pelajaran olahraga tidak masuk ujian akhir nasional (wahahaha). Ketika hari pengumuman tiba, saya dan teman-teman beramai-ramai menyerbu lapangan sekolah untuk melihat nama-nama lulusan. Sayang sekali, kami hanya bisa melihat nama saja, karena nilai masih belum bisa diketahui hari itu.

Pulang sekolah, karena sudah tahu lulus, maka saya santai saja dan melaporkan apa adanya ke orangtua. Kemudian di sorenya, bapak saya pulang dan dengan wajah senyum-senyum (kelihatan sekali senangnya) bapak bicara ke saya yang sedang gosok baju. “Ika, kata ibu guru, nilai Ika paling tinggi ya!?,” bapak ngomong begitu. Awalnya saya tidak percaya, soalnya bapak saya hobi bercanda dan iseng, jadi saya sempat mikir pasti kena tipu biar bahagia semu. Orang mungkin mengira saya kok suuzon begitu, mana mungkin orangtua sendiri mengerjai anaknya, tapi yang kenal bapak saya pasti tahu, beliau itu bercanda sama serius susah dibedakan, kecuali kalau sedang marah. Jadi waktu itu, saya memilih untuk tidak percaya, dan berulang kali mempertanyakan keabsahan berita itu. Akhirnya, karena bapak menyebut nama guru saya, berikut testimoninya, saya percaya tidak percaya juga, disertai muka yang cengengesan bahagia.

Yah, sebenarnya mendapatkan posisi teratas se-kabupaten itu bukan target saya. Dan gara-gara prestasi tadi, semua orang di sekolah jadi kenal saya (bahkan merembes ketika masuk SMA). Waktu itu ada dua orang yang nilainya sama (beda hanya di dua angka setelah koma, dan saya jadi yang kedua), dan si peringkat satu itu adalah siswa dari sekolah lain, yang sebetulnya juga teman saya ketika di SD.

Bagi saya pribadi, momen lulus dengan nilai tertinggi memang momen yang fenomenal. Apalagi itu adalah masa-masa masih remaja dan memang penuh cita-cita. Tempat saya berpijak sekarang tidak bisa lepas dari impian-impian yang saya pupuk dari semasa putih biru. Karena kecintaan saya akan bahasa jugalah yang membuat saya bisa meraih cita. Mungkin tidak banyak yang tahu, saya mempelajari bahasa asing, Inggris dan yang lain, semenjak saya masih SD. Awalnya hanya tertarik saja, tapi hal itu jugalah yang terus membuat saya bertahan belajar di monotonnya pendidikan formal. Tidak bisa dipungkiri juga kalau minat adalah faktor terbesar motivasi seseorang untuk terus maju. Hal ini baru saya sadari sekarang, karena seperti yang saya akui sebelumnya, pada dasarnya saya bosan belajar lama-lama. Ini juga pasti dirasakan banyak siswa lainnya. Oleh sebab itu, melakukan sesuatu yang kita minati berpotensi mendukung kesuksesan kita di masa depan.

Dan bagi saya juga, zaman putih biru itu adalah saat saya menentukan arah hidup untuk saat sekarang. Saya bernostalgia dengan kenangan yang telah membawa saya hingga hari ini. Ditambah lagi nostalgia dengan segala bentuk “pemberontakan” kecil saat itu, terutama ketika tidak “mood” belajar. Bagaimana saya dan teman-teman keluar barisan upacara dengan alasan kecapean atau pitam (ada benarnya tapi dibumbui drama agar lebih tragis), bolos olahraga dengan alasan sedang datang bulan (LOL), malas buat pe-er di rumah akhirnya nyontek berjamaah (ahem), bikin diskusi di meja sendiri saat ada diskusi besar di kelas (hihihi),…dan sederet kebandelan “anak baik” lainnya.

Semuanya itu nostalgia bagi saya.

Tuesday, November 1, 2016

Kuliah Dua Tempat: A Double-Edged Sword


Kuliah dua jurusan di dua universitas yg berbeda itu sudah fenomena biasa di dunia akademik. Kalau ditanya kenapa mau kuliah dua, pasti jawabannya macam-macam, mulai dari passion/interest yg memang di dua jurusan tadi, permintaan orangtua, sampai iseng saja. Lho? Bisa iseng saja? Yah, memang ada orang yg kuliah itu dg dua misi: jurusan A utk masa depan, jurusan B utk isi waktu senggang. Well, to each their own.

Tapi. Ada tapinya, lho.

Kebanyakan orang yg kuliah di dua tempat itu punya challenges yg sama: time management dan stress management.

Ketika waktu yg tersedia tidak banyak, dan umumnya mepet-mepetan, mayoritas para dualer (mahasiswa kuliah dua-red) kerepotan membagi jam terbangnya. Bayangkan saja, di kampus A kuliah 24 SKS, di kampus B kuliah 24 SKS. Apa gak stress?!

Saya contohkan saja kondisi saya sendiri ketika jadi dualer. Baru selesai jam di kampus A, saya sdh harus angkat kaki utk menuju kampus B, yg akhirnya bisa tercapai sambil ngos-ngosan di ruang kuliah. Lain lagi ketika hrs rela dipalang absensi krn tdk ikut kelas di kampus A berhubung bentrok dg jadwal midterm di kampus B. Mau nangis tapi gak keluar air mata. It was a hard choice, really.

Nah, tapi dg segala kerepotan itu, kenapa masih mau jadi dualer? Jawabannya kembali ke alinea satu di atas tadi. Dan, kalau saya sendiri kebetulan krn kurang kerjaan saja, eh, krn memang dua bidang itu saya minati.

Hanya saja, ada hal yg patut disayangkan. Ketika kuliah itu bukan atas motivasi pribadi, dan lebih krn tuntutan/ambisi orangtua.

Beberapa orang mengaku kuliah dua krn dia harus mengakomodasi dua keinginan. Satu, jurusan pilihan hatinya, yang satu lagi jurusan pilihan orangtua. Alhasil, sampai sekarang mereka belum selesai di jurusan pilihan orangtuanya, padahal jurusan pribadinya sudah dari tahun kuda dia selesaikan. Poor souls!

In this case, sepertinya para dualer terdesak ini harus menggunakan sedikit trik agar orangtuanya rela mereka tidak melanjutkan lagi, sehingga mereka tidak perlu stress berkepanjangan juga. Mungkin tips saya dulu bisa digunakan ketika saya memutuskan tdk kuliah lagi di kampus B. Hehehe

Walaupun kuliah dua itu pilihan saya sendiri, tapi orangtua saya sudah warning dari awal, kalau saya tdk boleh sekali-kali balik badan setelah maju jalan a.k.a dua-duanya harus selesai. Oleh krn itu, mempertimbangkan warning tadi, saya memanfaatkan momen tsunami sbg 'alasan' keluar dr jurusan di kampus B, yg kebetulan di prodi ilmu keperawatan. Yah, saya akui saja kalo saya tdk sanggup "lihat korban berdarah" dan bisa "pingsan" nantinya...dan sederet alasan horor supaya diaminkan permintaan saya.

Jadi, daripada status tidak jelas di jurusan non pilihan, sebaiknya dicari jalan keluar supaya tidak berlarut-larut kuliah penuh kepedihan mental spiritual. Pasti ada jalan... krn yg terbaik utk setiap orang itu adalah yg terbaik.

*(Nasehat apa sih ini, haha)

Sekian dari mantan dualer
Best,

Wednesday, July 22, 2015

My Two Cents of Ramadan

The month of fasting has ended.
Ramadan has gone.
And so we're back to square one.
 
Well, then, how should I describe my Ramadan?

As far as I can tell people, it seems that my Ramadan was quite 'saved'. I thought I've made some improvements here and there, in my prayers or my deeds.

Only that, perhaps, compared to others', mine was still lacking... but somehow, I feel some things have been done better. There were. A bit. Better.

Also, it seems to me that I get the feeling of getting more mature(?) as the month progressed. I'm not quite sure. But, I'd like to say...that I have, in some way, overcome my troubles that have been bothering me the past weeks.

And finally, nearing its end, I sensed an indescribable feeling that finally I've come to term with 'everything' that goes against my wish.

This Ramadan, I have earned another confidence. And trust. In Allah.

‪#‎my_two_cents_of_Ramadan‬

Wednesday, April 29, 2015

Oops, I did it again...

Oh, well... my habit has struck again. For the nth time, this blog is abandoned by the owner. *facepalm*

...

I'll just post a picture then. *big grin*

this was when my friends and I went to Port Arthur, Tasmania, Australia

Thursday, August 28, 2014

:imaginary



 

for the first time in life, 
i wish i were someone else...

Sunday, January 19, 2014

The new post in what may have been the longest hiatus era my blog has ever experienced

H. I.

I feel like I need to at least greet my own blog after all this time I didn't bother to write anything. You see, people, it's year 2014 already.

I know I should've posted something like 'what I've done for today that made me feel sick' or even 'whaddaya think of this picture, should or should not it's posted in my blog'.

Yeah, things like those. *just in case there are people who wanna know my life updates*

S. O.

I feel like I need to say something here because I know I'm kind of ignorant and thus my blog looked like lifeless since forever. And, that's exactly the very reason why I refused to be a journalist or sort of --he-eh, you see, I may not look like it but some people did ask me-- because I know I won't be able to update things diligently.

S. O. part 2.

I should end this post here. I have no idea what I should write next in here.

I'm idealess.

signing out

Monday, July 1, 2013

The fate of my laundry


Having been raining the whole week, on and off, I still decided to do my laundry because... well, there will be a hell lot of laundry piling in the laundry basket if I ignored this calling.

But, fear not my friends, since I am sooo smart, I knew just what to do to change the fate of my laundry. Unlike my housemates, I wouldn't let my laundry hanging unprotected. It's a no-no in my diary, uhm, I mean, dictionary.

I wouldn't let my laundry having almost dry for getting wet again because the rain has been pouring down on and off non stop, although... we've already double checked it with the weather forecast sites just to make sure today was not going to rain... for it then suddenly rained. 

Anyway, not to say that the forecast was incorrect, just it's unreliable, a bit.

That said, I then realized that to overcome this issue, there is one thing I obviously can do. Y'know, it's the must-use item that every household, every person sane enough out there need to provide to shield themselves from the attacks of the rain. (well, rain certainly does not attack, I only make it more dramatic here...)

For sure, you people must recognize this one particular familiar item, necessary worldwide since its first introduction in whatever year of era I don't know (sorry, no time to do research for this).

Yep, you guess it right, people. It's the umbrella. 

(wait, none of you guess it's a raincoat, don't you?)

Well, then, how does it look like to solve the issue of protecting laundry under the heavy downpour of rain?

See it for yourself, here is a valuable alternative provided by me. 

Whoa, I'm such a genius... hehe. *bragging since no one is praising :D

 

Sunday, December 16, 2012

Hee, watch out, THUNDER is coming your way!!!

As you grow older, you'll find yourself get scared easily for no reason... Ever had this in your mind?? No?? Well, at least I do think this way. Duh (˘_˘٥).

The story happened just last night. It was raining hard then. I was sitting with my back leaning to the wall, peacefully and intensely watching the CSI series on tv. Outside, the rain poured down heavily, just so you know it was not alone… along with a bolt of lightning and thunder, as well. In short, there were thunderstorms, ladies and gentlemen.

Supposedly, as a big, grown-up lady, such a thing as the sound of the thunder, however BIG it was, it should not be a big deal, right? It's not like I stand in the middle of nowhere and worrying if I may or may not be hit by the lightning... I was just INSIDE of my house, sitting while eating my cassava chip snack while watching an intense CSI serial.

Then it came. The thunderstorm. Really B-I-G one. Trust me. The grrrh, I mean, the roaring sound of the thunder had successfully led to me getting a (mild) panic attack which made me feel like my heart almost jumped out of my chest for a second there *gulp*. It was so terrifying that I decided to switch off the tv and ran to my bedroom in a hurry. And then, my mom asked something which awakened my subconscious self, "Have you turned off the tv? It’s lightning outside" to which I quickly replied “Yeah...” Then my mom went again asking me, “So, what's with those chips in your hand? Why bringing it into the bedroom?" "Uh? Hehe…" I was just laughing foolishly when then my sis voluntarily answered the question on my behalf, "That's because she got scared, he-eh…”

Yeah, right, what a shame… turned out I was a scaredy-cat in a human form… why in the world I felt afraid that I unknowingly carried along the snack I was eating, just because of the thunderstorms. Great. Now I need to add one more thing to be afraid of, in this whole universe. What a fragile woman, what's the use of watching the CSI series then?? (wait, does it really have any connection?) ARRGHH...

Can't I get afraid whenever there are thunderstorms??? Tell me why not???

Sunday, November 27, 2011

Alih Admin Blog...

ini foto saya, lho.... imut ya? ahee

----------------

Ehem, hem. Tes, tes, satu, dua. Oke. Status: stand by.

Eksyen.

Slamat malam menjelang midnait buat semuanya. Perkenalkan, saya adalah admin sementara jadi untuk blog ini. 

Nama saya adalah Hicoelita si Kuching Masyhur. Idola sejuta umat, berpribadi merakyat.

Saya adalah seekor makhluk yang lebih dikenal di dunia manusia sebagai Kucing. Binatang lucu en ngegemesin. Saingan anjing, tapi tidak suka jogging. Suka tikus, apalagi ikan kering. Sering pura-pura nolak kalo dikasih makan, walo sebenarnya malu-maluin. Itulah saya, si Kucing.

Sebelum semua pembaca jadi heboh karena saya tiba-tiba dengan tiada angin tiada hujan muncul di laman blog ini, baiklah saya memperkenalkan maksud dan tujuan saya berada di sini.

Pada dasarnya, saya duduk di sini, mengetik-ngetik huruf-huruf ke blog ini adalah gara-gara si admin blog ini yang sebetulnya, si Ika itu, lagi gak punya ide buat nulis-nulis. Lagi mentok, gitu menurut pengakuannya sendiri ke saya (yah, kalo menurut saya yah, sebenarnya lagi bad mood... kali pengaruh hormonal tuh, ups, hehe, beda sama saya...). Dan, akibatnya, saya suka gak suka jadi ngejogrok di sini sambil menuangkan apa yang mau saya tuang sesukanya.

Katanya lagi, saya boleh nulis apa aja, boleh tentang kegiatan saya hari-hari, atau anak-anak saya (ya, saya ini udah jadi ibu, lho) atau fans saya, atau apalah yang perlu saya tulis. Tapi, dari kesan yang saya tangkap, sih, dia maunya saya tulis tentang dia yang bagus-bagusnya gitu. Biar keliatan dia baek hati en baek budi sama saya. Ah, saya sih, gak peduli tuh, wong saya gak dibayar juga, buat bantu menuhin isi blognya (kerja suka(ga)rela gitu).

Dikasih makan juga enggak. Dia bilang, saya udah gede, dan harus bisa hidup mandiri, jadi gak dapet lagi stok makanan dari rumahnya... kecuali, ada lebih, baru dah, saya kena cipratan rejeki. Kalo normalnya mah, saya disuruh nyari makan sendiri di luaran. Sok mau buat saya hidup berdikari gitu, si Ika itu. Ckckck, gak tau dia kalo dunia luar itu penuh perseteruan untuk makhluk Kucing kayak kami ini. Huff... Ah, sudahlah, dia mana mau tau yang gituan...

Oh, ya, tadi saya harusnya cerita-cerita, ya. Hehehe, hampir lupa. (=^-^=)

Hmm, mau cerita dari mana ya? Ah, iya, saya mau bilang, kalo saya itu betina (tadi udah saya bilang kan kalo saya udah jadi ibu kucing).

Saya dilahirkan oleh seekor kucing betina domestik (gak enak kalo nyebut 'kampung'... kurang greget) yang dengan tega ninggalin saya di belakang rumah kos-an si Ika dan keluarganya, gak begitu lama setelah mereka menempati itu rumah.

Waktu itu sedang musim hujan juga, dan karena saya masih imut sekali (dan gemesin juga pastinya), saya sudah barang tentu masih lemah sekali. Akhirnya, si Fadel, adeknya Ika, berinisiatip bangun rumah-rumahan dari kardus, biar saya bisa tinggal. *itu sih adeknya ya, kalo si Ika mah, wah, jangan ditanya... dia suka gak peka lingkungan gitu... hehe

Dan berawal dari situlah, lalu saya jadi sering mondar-mandir di rumahnya. Sampe anak-anak saya juga ikut tinggal disini. Hm, udah berapa generasi ya? Haha, yang jelas, kami sekeluarga selalu ada di sekitaran rumahnya si Ika ini.

Nah, begitulah, sekelumit cerita singkat dari saya, yang akan mengawali perkenalan kita kali ini. Entar kalo ada momen yang lebih banyak, pasti saya bakal cerita lagi. Udah tengah malam soalnya... saya juga butuh tidur yang cukup lho... hohoho.

Ciao. Miao. Miao.



Sunday, October 23, 2011

Moody Lady in Action

kalo mengikut arahan para penulis-penulis gede, seorang penulis yang baik itu adalah dia yang tidak terpengaruh mood di kala ingin menulis.

tapi, gue enggak. 

sebagai penulis mini, gue akan berujar gini: "sungguh saya ingin jadi penakluk mood, tapi apalah daya, mood mengambil porsi terbesar dalam diri saya. saya adalah seorang moodian. karena saya adalah seorang yang bergolongan darah B." *yah, emang gak ada hubungannya...

lalu, karena gue sadar diri sebagai pemudi yang moodian. gue akan ngaku aja. kalo ada yang menemukan blog ini jadi sering ter-update, sampe sehari bisa ada beberapa postingan. itu tak lain tak bukan karena gue in a good mood.

tapi, kalo blog ini semacam terlantar, dan beberapa hari bahkan mungkin bulan, blog ini isinya gak jelas dan suka ngawur, itu dikarenakan gue in a bad mood. 

maka, begitulah. 

bagaimana sebuah mood bisa mempengaruhi seorang gue.

sekian.



tertanda,
the moody lady.

Monday, October 17, 2011

Hari Ini...

ada beberapa pokok permasalahan hari ini. pas chatting, ga taunya dapat gosip tak sedap (iyee, emang sejak kapan itu bisa dimakan?)...

hm, tapi kalo bisa ditarik kesimpulan sih, semua itu karena miskomunikasi... dan, yang paling penting juga, misinterpretasi.

adalah sangat berbahaya kalo kita terima berita yang sepenggal benar, dan sepenggalnya lagi benar-benar-deh-tuh-orang-ngarang.

mending aja bagus... eh, ini mah, ampir menghancurkan bahtera rumah tangga orang laen. huft, sungguh tak terbayangkan!

sebenernya, gue pengen nulis tentang gosip ini di blog... tapi, entar kalo kebetulan yang ngebaca adalah orang yang digosipkan... bisa-bisa gue harus say goodbye to dunia fana nan gila ini! hehe.

udah ah, entar malah makin tergoda...

adios, cipika-cipikos, domestos nomos! *lho? jadi jualan

Friday, July 29, 2011

Apa pula yang ada di pikiran awak ni?

Fiuuuhhh... bener-bener minggu yang menguras energi. Karena aku pengen urusan kelar sebelum aku ikutan training ke luar kota, aku 'berjuang' menyelesaikan utang 'nilai-nilai ujian' di kampus. Maka, berbolak-baliklah aku dari dan ke kampus - kantor - rumah - tempat les... ulang lagi kampus - kantor - rumah - tempat les... begitu seterusnya.

Sungguh... bagai menerjang beratnya badai kehidupan. *maap, melebai sikit...

Gara-gara itu aku justru melupakan satu hal lain yang lumayan urgen!!! Aku belom beli tas ranseeel.... wadow, pegimane nih, mau ditaro dimana laptop dan perkakas elektronik laennya nih!!!

Masalah laen yang muncul adalah... besok siang aku mau ciao ke luar kota, eh, ternyata masih ada seonggok tumpukan kotak tupperware en rantang punya dosen aku yang udah dari bulan lalu belom kukembaliin... Woow, luar biasa ya!!! 
 
Parahnya lagi, dosen aku pula yang ngingatin kalo aku masih punya 'utang rantang' sisa acara arisan dirumahnya... Sungguh, tidak tau diri sekali aku ini... 



*maap bu... rantang dan kotak laennya akan segera saya kembalikan sebelum saya betulan dihajar amnesia... tulung dimaapkanlah bu... bentar lagi kan puasa... yah, marilah kita saling memaapkan bu...hehehe

Ehm, sebenernya boro-boro ngembaliin barang tepat waktu, beli barang baru pun aku tidak... itu tuh segala pernak-pernik benda yang diperlukan pas bepergian jauh yang seharusnya kubeli, juga belom ada. 

Nah, jadi ceritanya, yang baru selese kuberesin tuh ya ngisi travel bag sama baju-baju gitu... yang sebenernya juga, gak banyak-banyak amat... karena akhirnya baru kusadari aku gak punya banyak baju... ehm, ternyata selama ini aku 'minjem' baju adek aku, si Alfi, kalo aku mau kemana-mana (mana dia pake ngasih warning jangan sampe aku bawa lari baju dia lagi... cih, suuzon amat deh...).

Sumpah!!! Aku cuma beli baju baru tuh taon lalu, pas kalo gak salah lebaran haji gitu. Itu pun sebiji doang! Hieee, jadi uang aku kemana aja udah dia perginya???

Oh, hehehe, rupanya uangku abis buat beli buku, ding! 

Aih, aih, sungguh tak habis pun kuberpikir...

Monday, July 11, 2011

Sekadar Update Doang...

Hee... Blogger ngubah tampilan di dashboardnya... huehehe, aku cukup senaaang. 

Jadi critanya ini post pertama aku setelah perubahan besar-besaran dari Blogger buat para pemakenya.

Hmm, ini kayak tampilan apa ya layout dashboardnya? Gak tahu bilang juga sih, abis aku kurang bisa mengekspresikan dengan kata-kata yang cocok sama keadaan ini. But, yang jelas, layout-nya aku suka banget, en jadi pengen sering-sering update aja... hehe

Trus, trus, pas mau set label-nya juga asik banget... kalo maren-maren aku harus ngetik satu-satu nama label-nya, sekarang aku cuma tinggal nge-klik label-label yang udah ada. Bahagia.

*padahal yang ditulis sekarang bukan yang bagus-bagus amat juga... hehehe

Wednesday, June 1, 2011

Salam Sapa Semuanya...

Udah masuk bulan Juni, haaah, gak nyangka akhirnya nembus hari yang lain lagi... cuma, yah masih dengan tema yang sama kayak bulan-bulan kemaren... cita-cita masih banyak yang belom kesampaian, masih berserakan entah di mana-mana.

Ide berantakan, pikiran berseliweran, kacau balau. Pantesan banyak yang gak kejadian... hehehe.

Eniwei, ada sebiji citaku yang insya Allah bisa jadi. Kukasih nama, proyek akhirat. Tsaaah...

Yah, gimana gak namanya gitu, secara kite-kite kan mo nabung juga buat masa depan... di akhirat, maksudnya.

Kalo nabung yang bentuk materiil kan udah sering tuh, nah, berhubung nasip en idup ke depannya kita gak tau bakal bertahan berapa lama, so, aku en beberapa kawan berembug buat nelorin ide 'proyek akhirat' ini.

Aku sih gak berharap yang muluk-muluk sih, cuma kalo bisa proyek kita ini bakal langgeng sampe kita tua entar, en juga moga-moga hati kita bisa tetep ikhlas ngejalaninnya. Cailah, bahasanya...

Trus, ada juga tema sentral yang jadi topik suam-suam kuku (aer kalee...), yakni 'kapan nikahnya nih?'. Hahaha, tuh topik emang gak ada matinya.

Suer, deh. Kemana aja aku pergi, selain kena todong ama pertanyaan ginian, aku juga ampir selalu 'ditawarin' calon-calon yang menurut mereka cucok ama diriku inih. Entah kriteria apa yang bikin mereka ngira aku bakal cucok sama pilihan mereka. Susah hati mereka ngeliat aku gak laku-laku, kayaknya, hehehe. 

Enggak ada maksud mo sok kecakepan, tapi aku dikira suka milih-milih, gara-gara yah, adaaa aja yang 'bermasalah' sama tawaran mereka. 

Enggak bisa juga aku ceritain satu-satu, tapi yang jelas, beberapa hal prinsipilnya aku en calon-calon itu agak tidak seiring sejalan. Jadi, yah, gak pernah ada yang pas, deh. Wallahu'alam... kuatir juga aku ngomonginnya, entar disangka beneran sok kecakepan lagi. Maap, ya... (_ _)''

Kita lanjut lagi. Berhubung tema suam kuku tadi gak bisa kuselesaikan secara adat dan kekeluargaan, jadinya aku berubah haluan mikirin yang laen. Kayak misalnya: kuliah lagi.

Adapun tentang pengen ngelanjutin kuliah lagi ini, aku seteres mikirin kenapa jurusan yang mo aku pilih enggak ada di beberapa beasiswa yang aku survei. Padahal, aku lagi targetin kuliah ke Eropa. 

Dua-duanya pilihan yang sisa en bisa aku coba adalah Erasmus Mundus en Stuned. Gak tau deh, apa yang bisa aku dapet. Mudah-mudahan kali ini sukses, en yang paling penting berkah juga. Yah, gak mo lah aku kayak beberapa orang yang udah ke luar negri trus akhirnya buka aurat... naudzubillah. Pernah tuh pas aku lagi di Amrik, sempat ada temen yang nanya-nanya iseng... 'bakal buka jilbab gak kamu?' gitu tanya dia. 

Karena aku juga manusia neh, en kuatir bisa silap, aku nyoba jawab dengan diplomatis, en supaya gak terkesan suombong gimana gitu... 'aku akan coba berkomitmen, karna aku udah milih berjilbab gini, moga-moga ke depan aku tetap bisa jaga diri', gitulah cara aku ngejawabnya. 

Yah, insya Allah, sekalipun terdampar ke negri minoritas muslim manapun, aku harap banget aku tetep punya iman yang cukup kuat. Kalo enggak, mending gak aja lulus kuliah ke negri-negri laen. 

So, aku, apa pun hasil akhirnya, aku akan berusaha bersyukur aja. Karena hanya Allah yang tahu bagaimana kelanjutan episode hidupku, maka, hanya itu yang mampu aku lakukan.

Just hope for the best, and for what is blessed.

in striving for keeping my hopes up, how far can I go?

Saturday, May 28, 2011

Bocor Ban, Tuh, Emang Penuh Misteri...

Luar binasa hari ini. 

Niat awal mau ke kampus jam 5 sore teng. Terus, jemput tiket launching buku sama bang Rahmat, jam 5.30. Teng.

Tapi, apa hendak dibilang. Begitu meng-gas (gak, gak pake NOS, kok...) motor keluar halaman rumah, tiba-tiba motor terasa goyah. Aku seperti dapat pertanda. Bakal gak good nih, dragon-dragonnya. 

Firasat aku mengatakan (deu, musti gitu berfirasat...) "ban motorku bocor lagi neeeh."

Begitu ku-cheque... Hiee, kadal kecebur got, kucing berlari-lari, ayam berkokok di pagi hari... Apes tenan aku, rek!!! Beneran bocor lagi tuh ban belakang motorku.

Bisa gitu, ya, di saat aku udah mau buru-buru pergi ke kampus, aku justru harus meninjau lingkungan tinggalku buat observasi tempat tempel ban.

Tempat tempel ban yang kutahu adanya di seberang jalan, yang mana aku harus mutar ke bundaran tugu pena di tengah jalannya. 

Yah, mana mungkin aku ke situ, lha, secara ban bocor gini... yang ada malah aku didorong sama kendaraan yang laen biar cepet nyampenya...

Jadilah, aku nanya-nanya ke ibu-ibu yang jualan gorengan di pinggir jalan, dimana posisi tepatnya tempat tempel ban yang strategis dan dekat di hati, eh... dekat dari perumahan ini.

Ternyata, ada satu bengkel motor yang ada di lorong laennya. Maka, meluncurlah aku dengan harap-harap cemas, berdoa supaya bengkelnya masih buka hingga sore.

Begitu sampe, langsung aja aku melapor perihal ban motorku yang udah kempes merana itu. Trus, si orang bengkel itu bilang kalo ban motorku tuh emang bocor, dan setelah diperhatiin, ada sebiji paku nyangkut dengan semangatnya ke ban itu. Pantesan. Dasar paku durjana! *hehe

Abis itu, diperiksalah ban dalamnya... en, you know what, si paku telah entah bagaimana caranya sukses menusuk ban dalam motorku itu di luka yang sama! Di torehan yang pernah dialami ban itu di suatu masa yang lalu dan telah ditempel dengan seksama, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, Banda Aceh, Maret 2011. Di tempat bocoran yang sama! Luar binasa!

Demi memandang parahnya luka si ban, aku iseng-iseng bertanya, "Biasanya ban baru itu berapa ya?" Si orang bengkel menjawab, "35 ribu, itu udah termasuk ongkos pasangnya." Lalu, aku bertanya dengan lebih dalam lagi, "Ehm, kalo ban ini, masih punya harapan hidup, gak?" "Yah, melihat dari kekritisannya, dia udah gak bisa ketolong lagi, hidupnya tinggal ngitung hari aja, emang lebih baik, diganti." "Ya udah, diganti aja sama yang baru. Saya rela." Aku berkata mantap dan pasti. Biar cepetlah. Aku udah telat banget, mana udah jam 5.15 pula. Nyampe di kampus, mau jam berapa tuh? Belom ngambil tiket buku.

Selese juga akirnya si ban diganti baru. Hem, hem, emang ini lebih praktis, karena harga ban barunya enggak jauh beda dari tempel ban. Solusi praktis dan ekonomis. Walo beda, tapi, dikitlaaah... dibanding aku harus H2C alias harap2 cemas tiap kali aku naek si motor.

Tapi, beneran deh, sebuah misteri terjadi!
Bagaimanakah si paku bisa menusuk tepat di bocoran yang lama?
Mengapakah hal itu terjadi pada ban yang sama?
Dan, mengapakah, peristiwa ini kembali terjadi di hari yang sama pula?
Mengapa?

Sekian, investigasi in-tire-tainment terkini.

Wassalam.