Configuration

"between the good and the bad is where

you'll find me reaching for heaven"















FrenshiPath

Daisypath - Personal pictureDaisypath Friendship tickers
Showing posts with label Gigi/Teeth. Show all posts
Showing posts with label Gigi/Teeth. Show all posts

Wednesday, December 21, 2011

Normal itu Indah

Ini adalah sebuah kisah 'kenormalan'. Oleh seorang wanita yang harusnya normal. Ditulis dengan pikiran normal, dan waktu yang normal pula. All in all, everything mah should be in 'normal' condition. 

Yeah, you say it.

Aih, kenapa tiba-tiba ngelantur gini ya? Mungkin karena udah midnait, mata udah menjelang lima watt, tapi azzam pengen ngegosip terlampau dahsyat? Yeah, whateva-lah. Akhu cumanh pengenh ngerachau... aihh,,, hayuh, segera selesaikan misi ngeposting malam ini sebelum modem lemot kembali dan jiwa kadung memanggil-manggil bantal... *eh?

*back to intro yang tadi...*

Ya, ini adalah sebuah kisah tentang kenormalan. Tentang sebuah g-i-g-i. Gigi. Yep.

Kenormalan sebuah gigi. Judul bagusnya.

Pernah tidak kamu merasa punya gigi normal itu adalah oh-asik-sekali? Pernah? Tidak?

Yang bilang gak pernah, pasti gak tahu beban hidup penderita gigi abnormal... Ya, karna banyak banget orang yang gak sadar diri kalau gigi normal adalah JALAN menuju kebahagiaan yang HAKIKI. Sebelum berasa sakitnya sakit gigi, pasti orang gak akan tahu betapa gede manfaatnya gigi-gigi buat kemaslahatan bangsa.

Percaya deh sama aku, gigi normal alias gak bikin masalah itu merupakan jawaban atas kenapa kita bisa hidup sampe detik ini.

Kenapa aku sampe ngomong nulis gini? Just because, saat ini aku sedang tahap penyembuhan pasca operasi gigi bungsuku yang fenomenal sebagai event penutup akhir tahun ini. Dan sehingga aku akhirnya mengerti. Bahwa, hidup tanpa gigi normal adalah mustahil adanya. Gila. Impossible. Absurd.

Apa faktanya? Check this out!

Fakta Satu. I Thought I Could Die.
              Seharian setelah operasi, aku gak makan, dan cuma minum obat, tok. Sampe beberapa harinya, aku gak bisa makan, dan karena udah kelaparan banget, kupaksa juga... tapi, berujung ke perih teramat sangat. Hari ke-4, pas mau minum obat, tanganku gemetaran, sekeliling berasa berputar. Saat itu, aku berasa kayak mau hilang kesadaran. Udah aja, tanpa mempedulikan sakitnya bekas dijahit, aku makan pisang... dua biji. Sambil tetap gemetaran, aku sempat mikir gak mau berakhir di bangsal rumah sakit, aku makan terus sambil baca doa. Baru kali itu aku bisa tahu kalau gak makan itu bisa segitu efeknya. And, that also made me realize that poverty and hunger can force anyone to do anything to continue living.

Fakta Dua. No Mengunyah is Yuck!
                   Kalau bayi, gak bakal bisa nolak makanan yang diblender, ditim, dan entah diapain lagi. Because, they don't talk. Jadi kita juga gak tahu apakah tuh makanan enak atau enggak. Kecuali, pas bayi-bayi itu muntahin makanannya keluar. But, berhubung aku udah dewasa, aku jelas tahu dong gimana rasanya makanan yang diancurin. Satu hal yang pasti: It Yucks! Kalau gak karena lapar yang teramat sangat, aku bakal menghindari makan model begini. Hfft, dan karena itulah aku memilih makan bubur nasi saja. Safe choice, I guess. Atau juga, makan roti yang dicelup ke air dulu... heuheu, biar dikata aku udah bosan banget makan model ginian, but, do I have a better choice? Maka, bersabarlah aku hingga saat pemulihan total itu tiba di hadapan. Pray for me, my friends...

Fakta Tiga. When The Stitches Hurting, It Hurts!
               Pasti untuk menutup jaringan yang telah terbuka akibat operasi harus ada jahit-menjahit, tho. Iyah, meski horor sekali pemandangan jahitan di sekitar dinding mulutku itu, aku harus nrimo, tho. Dan, meski tiap kali memamah biak, pergeseran jahitan tersebut menyakiti... (padahal udah minum painkiller, higs), I need to keep tabah menjalani. Gak selamanya mendung itu kelabu... karena, kalo hujan, kadang gak pake mendung dulu. *lho?

En so, begitulah sekelumit fakta tentang bagaimana seandainya seseorang tidak bergigi normal... dia akan menjalani sedikit treatment untuk meng-normalkan giginya, dan mengalami sedikit 'pelajaran hidup' dalam masa-masa perawatannya.

Moral of the story? Suami idaman akhir 2011: punya gigi oke.

The End.

Thursday, December 15, 2011

ah, back to that 'unforgettable memory'

sekian lama udah menjejak di banda aceh (setelah proklamasi yang sok keren itu), i just succesfully got my wisdom tooth pulled away for its own good... better than aku harus nahan sakit kepala every time it's "doing the work". mojok-mojokin gigi yang di depannya, en akibatnya aku jadi migren. bener-bener, sungguhhh!

pas di operasi ya, didn't feel hurt or painful at all. yalah, secara kena bius. 

the thing is, abis operasi!

syukur, udah sarapan pas sebelum mengikhlaskan gigi dicabut, dengan darah (pasti) banyak banget keluar... en, sempet kena jilbab. hieee... horor amat, dah!


kalo ga.. wah, aku ga bakalan bisa 'puasa makan' gini. cuma minum aer putih doang, itu pun buat bisa nelen obat 5 biji!!! hah, can you imagine that! 5 butir obat!!

--- btw, aku tuh paling anti obat-obatan... walo, minggu lalu sempat down gara-gara demam, but, i didn't take any medicine. prefer to healing naturally, just so you know. abisnya ya, kan itu juga karena drop because of perubahan cuaca en, my fasting days. yep, biasanya kalo abis puasa berturut-turut, aku suka drop dengan sukses. namanya juga puasa itu program detoks, jadi kurasa wajar banget kalo pas puasanya lancar... selese program, baru gedubrak! ehehe. ---

cuma, yang ini aku kudu minum obat. it hurts, gilak! kebayang kalo ga minum painkiller... kali aku bakal pingsan dengan tenang. owh, life...

ini juga yang ngebawa aku ke ingatan masa lalu yang kelam itu.

ba'da operasi gigi bungsu yang sebelumnya, selama lebih 2 minggu nahan sakit... cenat-cenut, nyut-nyutan... makan ga enak (ga bisa nelen, makanannya sibuk nabrakin diri ke gusiku yang tak berdosa itu... *antuk-antuk bantal*)... minum doang, tapi lapernya... nauzubillah.

and, the memory is back!


mo ingetin aku, gimana deritanya orang-orang somalia ga makan... berhari-hari, bahkan sampe seumur hidup.

jadi, kali ini lumayan cukup buat pembelajaran ya, walo kurasa, segini juga udah sukses ngebuat aku tidur melingkar biar bisa nahan lapar.


so.
tepat hari ini 48 kilo... uhm, 2 minggu lagi, jadi berapaan yak? hehe.

kalo jadi kurus mendadak,,, tolong jangan syok, soalnya biar kuluruskan di forum inih ya, ini bukan karena aku ikutan program diet apa pun. **ei, kali-kali aja ada yang mikir gitu... hehe.


Wednesday, October 12, 2011

The Balada of Gigi and Me

ini bener-bener berat buat aku. gak nyangka aja masa-masa menuju perpisahan dengan gigi bungsuku begitu dekatnya. pulang dari training ini yang udah sukses ngebuat tensi darah turun jadi 90, aku musti ngebikin janji ketemuan ama dokter gigi. segera.

pasalnya, udah jelas banget. kalo gak dicabut as soon as possible, tuh gigi dua biji bakalan selalu menjalari sarap-sarap di kepalaku. sakit dah kepala gua. hedeh.

padahal ya, gigi yang rapi dan bersih itu adalah salah satu hal yang paling kusyukuri. aku cukup berbangga diri dengan ke-tidak ada masalah-an di gigi-gigiku itu. saat itu merupakan golden age buat karir gigiku.

oke, kuakui, emang dulu pas masih imut dan lucu, semasa aku masih es-de dan sekitarnya, sempat ada masalah dengan gigi baru yang tumbuh padahal gigi susunya masih bertengger dengan jumawanya, dimana akhirnya aku harus maen kejar-kejaran ama ortu buat dicabut gigi ke rumah sakit terdekat. ato, gigi yang berlubang gara-gara aku hobi makan manis-manis dan akhirnya harus dicabut juga. tapi. itu semua kan terjadi hampir berabad-abad, eh, bertaon-taon yang lalu...

begitu aku udah jadi remaja yang cukup enerjik (ups, sori hiperbola dikit) dan punya gigi yang alhamdulillah bukan gigi susu lagi, aku selalu menjaga gigiku biar gak gampang berlubang dan semacamnya. itu semua aku lakuin karena aku tuh sangat sadar dengan kebiasaan makan aku yang tak pandang bulu dan mengembat hampir segala jenis makanan. ditambah lagi dengan hobi aku mengunyah permen karet ato permen-permen lainnya di segala suasana. entah itu pas lagi belajar di kelas, denger ceramah, upacara bendera, ato bahkan pas ujian, aku suka ngemut permen. permen termasuk salah satu benda wajib ada di tasku yang kubawa kemana-mana. jadi, amat sangat wajar sekali kalo aku kudu waspada dengan gigi berlubang, sehingga aku mewajibkan diriku untuk rajin-rajin menyikat gigi. sesering mungkin. catet ituh.

maka, dikala beberapa temenku mengeluh kalo mereka harus jumpa fans ama dokter gigi dan berinvestasi di sana sampe jutaan rupiah (berhubung rajin nyambangin tuh dokter), aku sangat bersyukur karena gigiku semua sehat sentosa tak kurang suatu apa.

hingga suatu saat. ketika kusadari wilayah gerahamku suka sering nyeri-nyeri gimana gitu. bikin aku suka sakit kepala gak jelas, dan kusangkakan aku menderita migren, padahal ternyata bukan.

disaat itulah aku menemukan fakta yang tak dapat disangkal lagi. ada gigi yang mau tumbuh. gigi, yang konon dijuluki gigi-tak-penting-deh-lu, berjudul Geraham Bungsu!

sungguh sukar dipercaya! aku kira aku udah punya lengkap susunan gigi terkeren yang pernah ada (owh, maap hiperbola lagi). ternyata belom, sodara-sodara. setelah diitung-itung, emang masih berjumlah 28. bukan 32 kayak yang mesti dimiliki orang-orang dewasa. dan tebaklah kapan aku sadar kalo jumlah gigiku baru 28??? itu adalah saat aku udah nginjak kuliah taon kedua!!!

parahnya lagi, si gigi itu tidak normal tumbuhnya. asem.

jadi, menunggulah aku hingga beberapa lamanya... tapi, si gigi tak kunjung menunjukkan indikasi akan menjadi tegak dan normal. dia bersikeukeuh tumbuh secara miringnya. T T

akibatnya gigi itu membuat rongga dan sukses membuat aku jadi salah satu orang di dunia yang menderita GIGI BERLUBANG. nyebelin.

rasa banggaku bertahun-tahun punya gigi jauh dari lubang dan ranjau seketika hancur berkeping-keping. rusak sudah reputasi gigi-tak-berlubang yang kujaga dari dulu.

gara-gara itu juga, aku jadi disadarkan. bener-bener kita tuh gak boleh senang dan bangga akan sesuatu yang tak pasti. meski hanya sederetan gigi. telak banget pukulan yang kuterima karena hal yang sepele ini. really, there is nothing in this world God doesn’t figure out. *astagfirullah... karena itu juga aku kira wajar kalo akhirnya aku mengalami masalah gigi ini. God, please forgive me... T T

lalu, karena udah gak tahan lagi sakitnya gigi ini (ngomong-ngomong, aku lebih prefer sakit ati daripada sakit gigi... nonsense ituh lagu dangdut, gak tau apa kalo sakit gigi tuh berasa kayak mau loncat aja dari atas ke bawah, begitu seterusnya... sakit banget tauuu!!), aku mutusin buat ketemuan ama seorang dokter gigi, yang nurut kabar yang berembus, adalah dokter yang cukup mumpuni di kotaku.

begitu sang dokter mengobservasi kondisi gigiku ini, dia langsung komentar gini: “ini geraham bungsunya, keempat-empatnya tumbuhnya abnormal.” sementara aku langsung yang: “HA???”

lha, piye tho. pegimana bisa semua gigi yang harus tumbuh supaya lengkap susunan gigiku jadi 32 jumlahnya, memilih tumbuh abnormal aja??? don’t they love me??? don’t they like the idea of being a part of my teeth??? T T

walhasil, berhubung aku gak bisa menemukan jawab atas tanyaku itu, pada taon 2007 lalu kupasrahkanlah satu gigi geraham bungsuku untuk pergi meninggalkanku... dengan tiga gigi lainnya yang ketika itu sama sekali belum memperlihatkan tanda akan tumbuh segera. aaargh!!!

eh, just so you know... aku gak bener-bener pasrah pisah ama gigiku itu, tapi juga pake acara nangis bombay!! dramatis bangetlah. hahaha, beneran deh aku waktu itu nangis sesegukan kayak orang seteres... sampe temenku heran dan nanyain kenapa aku bisa gitu. yah, aku tuh nangis bukan karena kenapa-kenapa... aku cuma takut banget harus dioperasi gigi. ngeri banget harus liatin darah sendiri keluar... gilanya, sampe aku ngira kalo aku bisa mati kalo gini... betul-betul parno deh pokoknya.

nah, sekarang aku kayaknya harus bisa lebih tegar. hahaha. soalnya dua geraham bungsuku udah muncul, walo abnormal (dan butuh TIGA taon buat mereka bisa tumbuh gini... *sabar neng, sabar).

jadi kudu dicabut dua-duanya. dan. kudu kuat!!!

*tapi, masih teteup cemas ini euy... TT.TT

Thursday, June 16, 2011

Gerhana Bulan dan Geraham Bungsu...

Persamaannya: 
Sama-sama disingkat GB atau sering disebut juga 'Ghadul Bashar'. *gubraks

Perbedaannya:

  • Gerhana Bulan, dinanti-nanti orang, terutama kaum potograper, baik yang amatiran (kayak saya) maupun yang profesional (kayak Pak Darwis Triadi).
    Terutama juga, buat kaum muslimin dan muslimat, yang ingin menunaikan shalat gerhana...selama mungkin, berhubung ada isu yang beredar kalo lama gerhana ini bisa mencapai 100 menit... dan mungkin adalah yang terlama dalam 100 tahun terakhir ini. (crosscheck: koran tetangga sebelah)
  • Geraham Bungsu, sebaliknya, tidak dinanti-nanti orang, dan kebanyakan malah ingin menghindarinya akibat dari efek emoh tumbuh secara normalnya yang membawa dampak bagi penderita untuk segera menghadap dokter gigi, serta segera melakukan operasi pembuangan geraham tersebut untuk selama-lamanya.
Abnormalitas tumbuh si geraham bungsu ini (yang entah mengapa malah disebut sebagai wisdom teeth dalam bahasa Inggris) dikenal sebagai impaksi gigi. Impaksi ini timbul karena gigi mengalami kesulitan untuk muncul ke permukaan akibat terhalang gigi di depannya atau padatnya jaringan lunak/tulang di sekitarnya. Geraham ini muncul dengan posisi dan arah yg tidak normal atau hanya muncul sebagian.

Dan, sementara orang-orang menanti kemunculan GB[ulan] dengan hati cerah-ceria meski hujan sedang melanda kota, aku di sini mengalami hal yang kontras dengan mereka.

Di sinilah aku saat ini, dengan kondisi tiga GB[ungsu] (yang satu udah innalillahi...) mengalami impaksi. Oh, sungguh situasi yang bisa memancing emosi diri. 

Aaarrrghh.

Aku enggak mau ketemu dokter gigi lagiiii... Gimana caranya???

Asal usul mula ceritanya, keempat (kenapa harus empat-empatnya sih???) geraham bungsu aku tuh ternyata enggak mampu bangun gitu (mungkin karena kurang kalsium ato juga pengaruh pola makan aku yang cenderung senang yang lunak dan gampang dikunyah, ehehe) dan jadi cuman sanggup munculin dirinya sebagian... dan lalu, akibatnya kemudian hadirlah lubang di gigi ini. Nah, lubang tadi kan akhirnya mengganggu saat-saat makan, karena waktu proses pengunyahan itu pasti ada makanan yang berhasil nyempil ke lubang tercela itu.

Jadi, beberapa taon lalu, satu geraham bungsuku udah berakhir masa baktinya di kursi pesakitan, dan sukses membuat aku enggak bisa ngomong jelas dan makan enak selama lebih dari 2 minggu. Ehem, jadi penyembuhan aku emang lebih lambat dari kebanyakan manusia, jadi harap maklum aja... hehehe

Walopun gitu sedihnya aku, yang bikin hati senang dan pengen ngejitak tuh justru karena adek aku, Fuad, yang begitu aku siap operasi gigi langsung nawarin makan bakso. Benar-benar adek yang ngerti cara menyenangkan hati saudaranya. Ckckck.

*sambil ngecek primbon mantra-mantra penghilang gigi tanpa rasa sakit dan operasi, kali-kali aja keselip di pojokan pondokannya mbah Google.