Configuration

"between the good and the bad is where

you'll find me reaching for heaven"















FrenshiPath

Daisypath - Personal pictureDaisypath Friendship tickers
Showing posts with label Palestine. Show all posts
Showing posts with label Palestine. Show all posts

Monday, July 4, 2011

Doa Anak-Anak Gaza di Pagi Hari

dakwatuna.com (inet)
Tuhan
Pagi ini kami ingin sekolah
Kami rindu pada madrasah kami yang indah
Kami rindu pada cerita Lubna dan Antarah
Tentu juga Sirah Rasulillah

Pagi ini kami ingin secuil roti
Kami ingin sepotong keju
Setetes susu
Dan sebutir Tin dan Zaitun

Pagi ini kami ingin belaian cinta
Ayah kami tercinta
Paman kami tercinta
Kakek kami tercinta

Pagi ini kami ingin matahari
Yang cerah menyinari Gaza
Dan mengusir segala kecemasan jiwa

O Tuhan, apakah mereka akan merampas juga
Matahari kami, atau menutup Gaza
Tanpa matahari
Sehingga tak ada lagi pagi bagi kami

Tuhan
Biarlah mereka mengucilkan kami dari dunia
Asal setiap pagi
Kau masih tersenyum pada kami
Dunia tidak penting lagi bagi kami

Tuhan
Kami tidak pernah mengemis kemerdekaan pada siapapun
Karena kami telah memiliki kemerdekaan itu
Setiap kami menyebut nama-Mu
Dan setiap kami rukuk dan sujud kepada-Mu

Tuhan ini pagi ini kami tetap tersenyum kepada-Mu
Maka tersenyumlah kepada kami


Oleh: Habiburrahman el-Shirazy

(Puisi ini pernah dibacakan dalam Konferensi Internasional Pengajar Bahasa Arab Dunia Islam, di Universitas Al Azhar Indonesia, Juli 2010. Dibacakan kembali pada acara Asia-Pacific Community Conference for Palestine di Jakarta, 29 Juni 2011)

Sunday, May 29, 2011

Secercah Harapan yang Mulai Memperlihatkan Terang Sinarnya

----------------

Warga Gaza: Perbatasan Dibuka, Saya Merasa Menjadi Manusia


Minggu, 29 Mei 2011 11:22 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, RAFAH - Ratusan warga Jalur Gaza, Palestina, tampak menyeberangi perbatasan Rafah menuju Mesir, Sabtu (28/5), setelah penguasa baru Mesir membuka perbatasan Rafah.

Mereka termasuk kelompok pertama yang menyeberang ke Mesir. "Orang-orang di Gaza telah menyaksikan revolusi, memberikan mereka rasa optimisme yang langka. Ini memberi kita harapan bahwa situasi bisa menjadi lebih baik, dan suatu hari nanti kita dapat menciptakan negara Palestina," kata Fauzi Feyez Abu Koush, warga Gaza yang berprofesi sebagai tukang pipa.

Pada hari pertama dibukanya perbatasan, pemerintah Mesir mengizinkan warga Gaza menyeberang ke Mesir tanpa visa untuk semua orang kecuali lelaki muda. Sekitar 410 orang telah telah menyeberang hingga sore hari pukul 17.00 waktu setempat. Menurut Salama Baraka, Kepala Polisi di terminal Rafah, dalam beberapa bulan terakhir, Mesir telah menetapkan jumlah pelintas hanya 300 orang per hari.

Sebagian orang yang keluar Gaza menuju Mesir untuk mencari bantuan medis, sebagian lainnya hendak mengunjungi para kerabat. "Saya sangat bahagia... Sebelumnya, saya sangat kecewa. Tidak ada kemanusiaan. Kini, entah bagaimana, saya merasa menjadi manusia," ungkap Hashna el-Reyes dengan mata berkaca-kaca. Hashna akan terbang ke London untuk mengunjungi anaknya.

Sementara itu, Jazzy Abu Faraq, seorang warga Mesir, sengaja datang ke perbatasan Rafah dari Kairo. Ia mengenakan kaos bergambar Revolusi 25 Januari dan melambai-lambaikan bendera Mesir. "Kami harus menunjukkan solidaritas kami dengan Palestina," katanya. "Kami ingin menegaskan bahwa keinginan rakyat Mesir berbeda dengan kehendak pemerintah."

Warga Palestina yang menyeberangi perbatasan mengaku kagum dengan apa yang dicapai warga Mesir dalam pemberontakan mereka. "Kami sangat senang karena Mesir sekarang mengendalikan perbatasan. Sekarang, ini adalah perbatasan Arab Islam. Mesir dan Revolusi 25 Januari yang membawanya kepada kami," kata Musbah Mohamed Halawen, yang bepergian untuk menjalani operasi tulang belakang setelah operasinya gagal di Gaza.

Dengan dibukanya perbatasan, jam operasional diberlakukan lebih lama, tidak ada pembatasan jumlah warga yang akan melintas per harinya, dan ada pembebasan visa perjalanan bagi seluruh warga Palestina, kecuali yang berusia 18-40 tahun. Diharapkan hal ini tidak memengaruhi keluar masuknya barang, yang kini hanya bisa dilakukan melalui pintu masuk yang dikontrol Israel.



Redaktur: cr01 
Sumber: AP

Saturday, April 30, 2011

Charity for Gaza: A Struggle for Dignity

Hari Selasa lalu aku menghadiri seminar yang sekaligus penggalangan dana untuk Palestina berjudul "Charity for Gaza: A Struggle for Dignity". Acara itu mendatangkan beberapa orang relawan Indonesia yang ikut dalam aksi kemanusiaan Freedom Flotilla dengan kapal Mavi Marmara untuk Palestina pada tanggal 31 Mei 2010, ke Banda Aceh, yaitu ustadz Dzikrullah Wisnu Pramudya, dari Sahabal al-Aqsha, dan istrinya, ustadzah Santi Soekanto. Turut hadir juga Heri Riswandi, ketua BSMI Aceh.

Awalnya aku tidak berniat datang karena jadwalnya dari jam 2 siang, sedangkan aku juga hari itu punya kegiatan lain di kampus. Tapi kemudian, aku berubah pikiran berhubung ada info tambahan kalau acara itu akan  berlanjut hingga jam 6 sore, serta info (yang tidak jelas kebenarannya) bahwa sertifikat seminar penulisan juga bisa diambil di tempat itu.

Aku tiba di tempat seminar ini ketika jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ehem. Begitu sampai, kukira acara sudah selesai, karena dari luar tidak ada tanda-tanda keramaian, tapi demi melihat jejeran motor di parkiran gedung PEMA Unsyiah, aku berasumsi setidaknya acara memang masih ada.

Karena sudah terlambat dan ternyata ust. Dzikrullah juga tengah berbagi pengalamannya yang menegangkan saat diserang militer Israel, aku jadi malu sendiri (mana  orang-orang yang kukenal tidak kelihatan batang hidungnya pula) dan langsung ingin buru-buru masuk ruangan itu saja, dan karena aku juga orangnya pemalu (ehm), aku sempat kagok di pintu masuknya, sampai-sampai ada seorang cewek memanggil-manggil pun aku hampir tidak sadar. Rupanya dia mau menyuruh aku untuk menutup pintu ruangan seminar itu.

Si cewek: (pake isyarat tangan menunjuk pintu) "Itu ditutup saja" (bisiknya dari jauh)
Aku: (lagi grogi aseli, bicara pake bisik-bisik juga) "Eh, yang mana?" (sambil lirik sana-sini)
 "Pintu, maksudnya?" (sambil nunjuk-nunjuk pintu)
Si cewek: (angguk-angguk) "Ya, ditutup saja"
Aku: (masih belum pasti, nunjukkin ke pintu lagi) "Pintu, kan? Ditutup, kan?" (ini enggak pasti atau emang sotoy? eleuh-eleuh, aku udah tengsin banget, udah pengen duduk terus, malu banget gitu masih berdiri-diri di depan pintu masuk... TT.TT)
Si cewek: (masih sabar, angguk-angguk kepala) "Ya... pintunya, ditutup saja" (luar biasa kan ya, dia teteup sabar gitu ngadepin kesotoyan aku saat itu... hehe)
Aku: (langsung bergerak tutup pintu, cuman secara di depan si pintu ada beberapa sandal dan sepatu, mau enggak mau kupinggirin dah satu-satu, kan enggak lucu aja kalo sandal-sandal itu kutendang biar cepet selese kerjaan aku di muka pintu itu... jaim lah ceritanya... hehe)

Setelah membereskan urusan sandal dan pintu tadi, aku langsung duduk di area kosong dekat pintu, tapi terus aku pindah lokasi, soalnya aku baru sadar kalau aku duduknya memang pas sekali di samping pintu. Ahee. Males, kan, kalau nanti ada yang masuk lagi, aku malah harus memberi jalan (udah jelas lah!), maka aku memilih mundur beberapa shaf, dan duduk rapi di barisan belakang yang masih ada spasi. Barulah aku mendengar apa yang dikatakan ust. Dzikru secara penuh.

Sambil bercerita tentang kejadian di kapal Mavi Marmara, ust. Dzikru juga memperlihatkan rekaman video para relawan yang sudah bersiap-siap dengan pelampungnya menanti kedatangan Israel ke kapal mereka, saat-saat sebelum Israel tiba serta saat-saat penyerangan biadab oleh mereka terhadap para relawan, yang tidak ikut disita Israel berdurasi 16 menitan. Katanya, rekaman ini  (saat itu dipegang oleh ustzh. Santi) berhasil lolos karena saat diperiksa, tentara tersebut sempat teralihkan fokusnya ke relawan yang lainnya. Ah, Alhamdulillah sekali...

Rekaman ini durasi aslinya adalah 1 jam-an dan dipotong untuk menghemat waktu, dan juga telah tersebar ke banyak media, begitu jelas ust. Dzikru.

Beberapa kali rekaman ditayangkan, aku tidak sanggup melihatnya. Sehingga ketika ustadz mengatakan bagian video yang memperlihatkan korban-korban, aku harus menundukkan kepala. Belum-belum tayangan selesai, aku harus menahan air mata. Tidak ingin terlihat menangis di khalayak ramai, itu sudah jadi kebiasaanku. Begitu mataku sudah terasa basah, aku cepat-cepat menunduk. Ini juga salah satu alasan aku awalnya tidak mau hadir. Rekaman itu bisa seumur hidup menghantui pikiranku. Benar-benar tidak kuat.

Ketika akhirnya tayangan selesai, ustadz sempat bertanya, "Siapa yang hatinya panas melihat ini?", yang lalu ditanggapi oleh acungan tangan para peserta.

Kecuali aku.

Hatiku tidak panas, ustadz. Hatiku sesak.

Cuplikan kejadian di kapal itu saja tidak sanggup kulihat. Konon lagi, penderitaan rakyat Palestina.

Seandainya aku di posisi mereka, apakah aku mampu bertahan?

Membayangkannya saja, sudah menyesakkan dada.

Wallahu a'lam...

Wednesday, April 20, 2011

Interlude

All your armies, all your fighters
All your tanks, and all your soldiers
Against a boy holding a stone
Standing there all alone
In his eyes I see the sun

In his smile I see the moon
And I wonder, I only wonder
Who is weak, and who is strong?
Who is right, and who is wrong?
And I wish, I only wish
That the truth has a tongue
--------------

Song: Sami Yusuf "My Only Wish (Interlude)"

Masih Terketukkah Hatimu, Saudaraku?

"Israel tidak menginginkan dia ketika dia masih hidup dan Israel tidak akan memiliki dia ketika dia sudah mati"
Pernyataan itu mantap diucapkan kepada koran Italia Agenzia Giornalistica oleh ibu kandung seorang aktivis dan jurnalis Italia yang menghabiskan masa-masa hidupnya membela kepentingan Palestina meskipun bukan seorang Muslim, Vittorio Arrigoni, seorang blogger  yang dibunuh oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab beberapa waktu lalu. (islamedia.web.id)

Perhatikan!

Betapa kepedulian seorang ibu yang anaknya berjuang demi kepentingan umat manusia lain yang bahkan tidak seiman dengannya bisa dengan lantang mengatakan bahwa tanah Israel TIDAK BERHAK untuk setidaknya dilewati oleh jasad sang anak.

Ironis!

Ketika malah negeri-negeri yang bertetangga dengan umat Muslim Palestina, yang notabene memiliki iman yang sama, memilih tidak bertindak apa-apa saat saudara-saudara mereka dibantai di sebelahnya.

Ketika bangsa-bangsa yang mengaku Islam dan mengerti bahwa luka saudaranya seiman adalah lukanya juga, memilih menjalin hubungan kerjasama dengan pelaku pembantaian saudaranya tersebut.

Ketika...
Bangsa-bangsa tersebut memilih tidak membuka pintu penghubung antara mereka dan rakyat Palestina yang tertindas, yang memerlukan bahan pangan untuk bertahan hidup dan mencari  keselamatan, hanya karena takut jalinan kerjasama mereka selama ini rusak dan menyulut api perpecahan yang baru di antara mereka.

Kataku!
Biar saja rusak ikatan itu.

Bila itu berarti kehidupan saudaramu menjadi lebih baik.

Bila itu berarti mereka mengerti bahwa saudaranya ternyata masih peduli.

Pada jiwa mereka, harta mereka, tanah air mereka...

Izzah Islam mereka.

Wednesday, March 23, 2011

Freedom Flotilla II to Sail to Gaza

And if only I can join them, ah...

So, I read the news about the planning of international organizations consisting of delegations from Algeria, Canada, Scotland, Spain, France, Greece, Holland, Ireland, Italy, Jordan, Kuwait, Malaysia, Norway, Sweden, Switzerland and Turkey, also Germany, Australia, Belgium and Denmark, to continue their mission to Palestine.

"The expedition will sail in order to force Israel to respect international law and to mobilize civil societies' support and solidarity with the Palestinian population of Gaza as well as bring attention to the wider issue of the host of human rights abuses carried out by the Israeli state against the entire population of Palestine. We will sail to Gaza until Palestine is free!" (International Coalition of the Freedom Flotilla II, Madrid, 7th February 2011)

This will be the second mission arranged by the Coalition after their first attempt was attacked by the Israeli military operation on May 31, 2010, even before the ship reached the Gaza land, in the international waters of the Mediterranean Sea. The incident was  also known as the Gaza Flotilla Raid.

The official statement informed that the ship with humanitarian aids will sail in the second half of May 2011, which means that it will be two months from now.

Hm, and I wonder of one thing...
How can I join the mission??? (well, if there is a miracle for me, then it's possible, eh? haha... keep on wishing, girl!)


Wednesday, February 23, 2011

The Gate of Heaven

Disclaimer: Ini memang promosi yang terlambat, secara bukunya udah launching entah kapan-kapan...(sori stroberi ya bang Rahmat, yang penting kan niatnya...hohoho ^^).

Pertama kali tau kalo bang Rahmatul Fitriadi (ya, bang Rahmatul Fitriadi yang aku kenal ituh) mempromo bukunya, kukira itu buku tentang kiat-kiat atau semacam buku motivasi gitu (abisnya enggak pernah terbayangkan sebelumnya kalo bang Rahmat menulis kisah fiksi, hehe), maka begitu aku tau kalo itu adalah sebuah novel, otomatis aku merasa tkjt bgt (terkejut banget-red)...yap, benar sekali...karena aku enggak pernah bisa bayangin aja...hehe, ternyata seorang bang Rahmat nulis novel juga... *kagum campur kaget sekaligus bangga*

Eniwei, setelah membaca novel The Gate of Heaven ini, aku bisa membuat sedikit rekomendasi (bagi yang belom baca dong pastinya...) bahwa kisah fiksi ini penuh dengan bumbu-bumbu fakta yang terpercaya...bukti-bukti otentik yang tak terbantahkan...bahwa segi kemanusiaan dan solidaritas antar sesama umat manusia tengah diuji melalui konflik perang antara Palestina dengan Israel...dimana konflik ini telah menguntungkan sebelah pihak yang notabene selalu membawa-bawa nasib bangsa mereka yang 'pernah' berakhir tragis ditangan Nazi Jerman di masa nun jauh sekali... what an irony!

Novel ini juga menceritakan bahwa, ada segi bangsa yang saat ini tengah diatas angin itu yang tak dapat dipungkiri kebenarannya, yaitu bahwa hanya bangsa merekalah yang paling benar dan berhak menjadi penguasa atas bangsa-bangsa lain di dunia ini, dan mencoba dengan cara mereka yang licik dan terstruktur itu untuk menghasut bangsa lain lalu pada saat yang sama mencari muka dengan memasang topeng 'terzalimi oleh teroris anak-anak dan remaja Palestina'...sungguh bodoh sekali mereka-mereka yang tidak dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil... it's just so saddened beyond words!

Nah, begitulah, this novel, I believe, was written on the thoughts that any one who still holds a sense of justice would understand what the situation really does happen in the Middle East today... The author merely conveyed the facts and truths underlying the conflict of humanity... while now, it is your turn to absorb the ideas...to digest it in your minds...what actions that you should take... for the sake of all the oppressed people out there...

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

[Song: Michael Hart, We Will Not Go Down]

On a side note,... what da ya know?? novel ini bakal dibuat tetralogi, dimana nurut penuturan bang Rahmat sendiri, buku kedua bakal dilaunching Maret ini, en buku ketiga en keempat tengah dalam proses penggarapan yang hampir rampung...hieee, rajin banget nih bang Rahmat...dua jempol jari deh d:(^^):b