Configuration

"between the good and the bad is where

you'll find me reaching for heaven"















FrenshiPath

Daisypath - Personal pictureDaisypath Friendship tickers
Showing posts with label FYI (For Your Information). Show all posts
Showing posts with label FYI (For Your Information). Show all posts

Friday, February 14, 2014

Seriously, who is Valentine?

Happy Valentine's Day... or so I should say it.

But, waaait... what, when, where, WHY should I say it?

The first thing that comes to my mind every time I hear someone at some place somewhere saying "Let's celebrate Valentine's day" or a simple "Happy Valentine's day" is THIS: who the heck is the person named Valentine that many many people around the globe seem to adore so damn much?

You see, when almost the entire world population spread the campaign on Valentine, you can't help but wonder who the person in question is. You might even wonder whether Valentine was a hero in the past and had helped the world be a better place at one point in his lifetime. You just can't help but THINK.

Well, then, isn't the thought above the most valid and acknowledged reason for somebody to be globally recognized and appreciated?

But, seriously, when so many people go on celebrating his name in every corner of the world, do they actually KNOW him?

I myself don't really know Valentine... let alone his life story. All I know, from my extensive research with the help of Google, Valentine was apparently a he, and a priest. Legend has it that he saved a couple madly in love, tho I had no idea what kind of hardships the couple had gone through. (I was thinking of Romeo and Juliet, but then they were just a fiction.)

Based on that experience alone, how could Valentine be credited for or equal to expressing LOVE? He's not the only human to do such a deed... and perhaps, there were even more people that were able to do more than just helping a couple. 

Ladies and gentlemen, LOVE is a grand thing. How can we possibly relate love with a Valentine? Surely, helping a couple madly in love could not be the only factor to use Valentine's name to express the love. What if the couple was not having a pure kind of love? What if they eloped because the man took someone's wife? What if... and many what ifs to answer. With so many things left unknown, and because the story was so blur, it just doesn't make sense seeing so many people celebrate Valentine's day. 

Ladies and gentlemen, once again, LOVE is a grand thing.

So, without knowing why Valentine and who Valentine is... a wise person should just celebrate the love they have in their own way... not influenced by some foolish campaigns and adverts that are trying only to gain profits from our ignorance.

Love is a grand thing. Let's not tarnish the love with something unclearly defined.

I rest my case.

Tuesday, March 5, 2013

To Sydney, Again!

balik dari liburan musim panas gue yang cukup panjang dan lama... empat-an bulan gitu, gue akhirnya menjejak lagi di bumi Australia, negri wool, kalo kata trio kwek-kwek. 

sebenernya ada banyak banget yang pengen gue tumpahkan ke blog ini, cuma berhubung gue masih jetlag (deu...) bawaanya pengen tidur mulu... dan gue pengen banget menimpakan kekesalan gue ini gara-gara susah tidur pules pas waktu di bandara sampe pas waktu di pesawat... akibat seringnya gue terbangun karena ada turbulence... *gue kan orangnya udah gampang kagetan, gituh... ehm.

so, berhubung juga enggak ada barang bukti yang bisa gue tampilin di sini,,, bahwa gue udah menjejak kembali di (mantan) ibukota Australia, alias Sydney, pada hari kemarin itu (tercatat di imigrasi Australia pada tanggal 2 Maret 2013)... maka gue putuskan (setelah pertimbangan matang) untuk meng-unggah --->

[ini ya, gue penasaran banget sama yang nentuin kata 'upload' dalam bahasa Indonesia ke 'unggah' ini... beribet bener gue ngomongnya... kenapa sih bukan kata-kata yang speaker friendly, macem 'taruh', ato 'letak'??... gue rasanya mau protes, tapi kuatir juga kalo disangka unjuk rasa yang berlebihan... aduh, serba salah gue sama kata 'unggah' ini, mau dipake tapi ribet, mau pake kata 'upload' aja tapi ntar dikira sok bule... haduuh...]

---> foto yang ada aja, yakni, foto pas gue pertama kali sukses touchdown kota Sydney, yang kebetulan adalah bareng-bareng temen gue yang bakalan kuliah di sini juga. kenapa gue pasang foto ini, ya tiada lain alasannya karena cuma foto ini yang eksis... yang bisa ada juga karena kesediaan temen gue buat motoin diri gue dan beberapa temen yang lain.

so, welcome me back, Sydney!!

bahagia telah sampai dengan selamat sentosa... sambil mejeng *ckckck
anak-anak hilang yang bahagia

Thursday, August 9, 2012

Yep, I'm officially... Back!

phew, now at last, i turn my face to my long-abandoned blog. kekeke. kasian banget, sudah entah berapa lama si blog ini kutelantarkan. yah, masih gara-gara cerita lama. aku terjangkit penyakit moodian, dilanjutkan dengan tugas-tugas yang menghadang bertubi-tubi, ditambah lagi sindrom males ngapa-ngapain, lalu diuji dengan kasus charger laptop hangus sehingga buntutnya aku jadi harus beli charger baru--yang kemudian hangus again-- dan memaksa aku buat beli laptop baru. 

yep, aku akhirnya punya laptop baru, toshiba, warna putih (lagi), buat menggantikan peran laptopku yang lama, yang udah berjuang bersama (ceilee) hampir lima taun lamanya, si vaio, yang warnanya putih (juga).

uhm, well. setelah sekian lama meninggalkan dunia blog dan akirnya balik lagi, it seems to me that skill nge-blogging ku tidak meningkat signifikan. yang ada malah, semakin tidak mutu. tidak jelas juntrungan, dengan kata lain.

ya, itu bisa disadari dari postingan yang ini. postingan yang seharusnya jadi 'debut' perdana blogku buat merayakan kembalinya aku ke dunia per-blog-an, justru malah menunjukkan kualitas tulisan yang menurun signifikan. settah, just what the heck am i rambling here...

so, eniwei, terima tidak terima, suka tidak suka... secara ini blog yang adminnya juga aku, mau protes juga tidak ada manfaatnya bagi kemaslahatan umat antar agama *lho?

all in all, i am officially back!!! yey, happy for me,yeeey... 


Sunday, March 11, 2012

Gua mo kayak Ksatria Baja Hitam, yang bisa... "Berubah!!"

semacam dapat wangsit aja aku nulis ini, ya... jadi begini, aku ngerasa gaya hidup aku emang kudu wajib dan musti dirubah. setelah kuliah mulai masuk minggu ketiga, aku masih suka leha-leha, yang harapan dapat nilai rollercoster kalo teteup begene...

pas giliran mo rajin dan menguatkan hati 'tuk ngadepin microsoft word dan mengetik essay, giliran si mbah ide yang ngilang. pergi kemana sih doi...
nah trus, aku jadi kepikiran... hidupku masih gak jelas titik fokusnya, kok aku masih hobi santai gini sih, apa aku gak apa-apa tuh kalo entar messed up di kuliah? gitu otakku nanya.

maka, berniatlah aku, untuk kebaikan aku sendiri juga...


aku harus berubah!! kudu itu!!
 
*yeah, kita liat aja ntar... fufufu

Wednesday, October 12, 2011

Tesku yang Acakadul Nasipnya

tepar dah gua! sungguh IELTS itu adalah musuh kita bersama... T T

walo dikata udah sering latian soal-soal reading IELTS sampe puyeng, ngejawab soal listening-nya sampe omongan native-nya kebawa-bawa mimpi, trus nyoba writing sampe tangan pegel-pegel asoy, hingga practice speaking-nya sampe berbusa en dilanda bosan tingkat tinggi, tapi tetep aja. gagal total pas ujian sebenernya. brokoli banget deh tuh tes!!

waktu ujian speaking, gua ngerasa kurang banget nunjukkin kalo gua tuh antusias (yah, dalam speaking juga perlu sedikit akting) en jadinya, betul-betul membual dah gua saat itu. jadi, kalo ditanya gimana kira-kira performa gua di speaking test itu, gua cuman bisa menjawab gini: “hanya Tuhan yang Tahu...” en kemudian berlalu pergi bak pahlawan kalah perang, meninggalkan para penanya dalam kebingungan dan menatap sendu pada sosok gua... *pas banget kalo jadi adegan di film ini... really appropriate, nice scene, perfect acting... superb, dah! 

besoknya (speaking dites terpisah di hari sebelumnya), gua udah matengin diri menghadang sisa tes IELTS yang diuji di hari yang sama secara berurutan, pertama listening, trus reading, en terakhir writing.

secara di beberapa latian, gua dapet hasil yang gak begitu mengecewakan, maka di hari ‘H’ itu pun aku menyiapkan diri seperti biasanya kalo mau latian tes IELTS. no extraordinary prep, lah, ceritanya.

lalu, apanyana?

begitu masuk listening... di awal masih oke si speakernya ngomong apa, eh, begitu udah mulai sesi ke tengah soal, mulai deh tuh... I messed up. trus, gua segera sadar diri... ini gak bisa ilang fokus. baru dah, gua fokus balik ke si speakernya... huft!! gua emang gampang ter-distract en susah banget konsentrasi kalo ujian... maka dari itu, gua harus dobel usaha kalo mau sukses ujian...

abis listening, pengawasnya ngasih soal reading.

ampun!! tuh bacaan di tes reading beneran bikin nyahok orang yang ikut tes. yang bikin sebel tuh, gara-gara kita harus bolak-balik baca text trus nyocokin jawaban: karena model soal kali ini di-set acak jadi kalo soal pertama ada jawabannya di paragraf ke-4, eh soal kedua ada jawabannya di paragraf ke-1... dan begitu bolak-balik.

kalo biasanya gua punya lebih 10 menit buat crosscheck jawaban... yang ini malah gua bersyukur banget masih bisa menjawab walo tinggal 1 menit lagi. gua amat berharap waktu itu si pengawasnya lupa liat jam... tapi, mereka begitu strict to the rules... aih.

lalu, dimulailah tes writing.

seharusnya juga, itu bukan hal yang sulit buat gua. tapi, yang terjadi malah DISASTER!

entah karena otak gua bolak-balik ngirim sinyal *ini ujian*ini ujian*... gua jadinya panik en sempat blank pas baca soal writing. bingung gua harus nulis apa di kertas jawaban. HA!! apa coba!

tapi, gua mencoba tetap tenang en mulai menulis jawaban untuk task 1, yang soalnya tentang deskripsi tiga negara dan jauhnya perjalanan dengan bus dan kereta api. hmm, harusnya mudah bukan?? ya, harusnya!

eh, tiba-tiba pas lagi nulis di task 1, si pengawas ngingetin waktu tinggal 40 menit lagi. gua kan jelas kaget banget. lha, kan itu waktu yang kudu dipake buat nulis jawaban task 2. sumpah, gila! gua bahkan belom sempat nulis kesimpulan esai task 1 itu...

akhirnya, gua putuskan nulis jawaban task 2 dulu, en pending konklusi task 1 (gua kira bisa ngebut di task 2).

namun, lagi-lagi gua membuat kemalangan lain. karena udah tinggal pas-pasan waktunya, gua gak brainstorm dulu apa yang mau ditulis di esai itu. gua maen tancap aja... pikiran gua cuman satu waktu itu. yang penting selese. gak penting lagi ide esai itu mau bagus ato gak... konon lagi grammar-nya... sebodo amat lah!

pas lagi asik-asiknya mengarang indah, tiba-tiba si pengawas bilang waktunya tinggal 20 menit lagi. dan gua yang kaget, jadi semakin kaget begitu gua ngecek lagi pertanyaan di task 2.

bisa gitu ya? sang soal nanyain tentang efek pertambahan penduduk usia lanjut... eh, gua-nya malah sibuk jelasin tentang faktor yang mengakibatkan penduduk usia lanjut semakin bertambah. apes tenan!

esai gua akan dianggap tidak menjawab soal kalo gitu. gua yang langsung lemes aja pas tersadar udah melakukan kesalahan besar. mana ruang auditorium tempat kita tes itu pake AC, en gua yang udah nyelimutin diri pake jaket malah kayak yang udah sesak napas gara-gara dicekam panik luar biasa. aseli. tangan udah dingin aja, en gua langsung lunglai mengingat bisa dapet 5 karena salah jawab gini. ditambah, gua gak bisa mikir lagi, en ide stuck untuk beberapa saat itu.

mau nangis, jelas gak mungkin.. en jelas gak nyelesain masalah. pilihan yang ada adalah: gua MUSTI pake jurus cakologi. ngakalin jawaban yang udah terlanjur ditulis... mengubah beberapa baris kalimat di esai yang udah gua karang ampir tiga paragraf itu yang tak mungkin dihapus lagi berhubung waktu adalah pedang! yah, intinya: Mengarang TAK Indah.

parah. suer.

pas masih ada sisa waktu 5 menit lagi, langsung gua buru-buru balik ke task 1 en menamatkan esai. phew.

akhirul cerita, gua berenti nulis pas waktunya udah abis. --->> begitu si pengawas koar-koar bilang tes udah berakhir, seisi auditorium kontan rusuh. huahaha. delapan minggu yang singkat dan padat demi menaklukkan sebiji tes. wajar kami mendadak irrasional dan akirnya menggila.

as for myself, gua kuciwa gak bisa setenang kalo pas lagi latian dan berpikir jernih dikala tes. gua rasa tes kali ini jauh dari sempurna. bener-bener brokoli!

ah, mau komplain juga udah gak ada artinya... you can’t turn back the time, girl!
terima nasibmu ajalah, nduk!


Friday, October 7, 2011

Live a Healthy Life the Japanese Way

Most people nowadays seek for a healthy living by going back to the nature. Choosing what food to eat for daily intake is inevitably one factor to stay healthy. The Japanese cuisine is currently an alternative for those who want to live longer. It is believed that the Japanese cuisine, famous for its freshness and natural food servings, brings a great deal of benefits for people’s health. 

http://www.expressentree.com/


The Japanese cuisine strongly emphasizes the food to be as fresh as possible. The fresher the food, the better it is for health. Sushi and sashimi, Japanese popular raw fish and seafood, are noticeable for being rich in Omega-3 fatty acid and vitamin A. The Omega 3 is found to be necessary for a healthy heart. Interestingly, the Japanese people are reported to have lower heart disease rates compared to other countries. This claim is supported by research on the Japanese and the US men conducted by Akira Sekikawa of the University of Pittsburgh in 2008. The research showed that the Japanese men had 80% more omega oils in their bloodstream than the US men (Romero 2009). 

The Japanese cuisine is also abundant with minerals, vitamins A, C and B12 and protein, from seaweed, and low in saturated fat, rich in protein and calcium, from tofu. In addition, ginger served in the food helps prevent arthritis, lower cholesterol, and blood clot-related risks, and the shitake mushrooms are good for enhancing the body’s immune system (Romero 2009). All these highly nutritious food is what makes the Japanese cuisine opted by most people for a better and healthy life.


Reference:

Romero, J. 2009, Health Benefits of Japanese Foods, 12 August, retrieved 6 September 2011, <http://www.suite101.com/content/health-benefits-of-japanese-foods-a138419>

Thursday, October 6, 2011

Children Should Mix with Each Other at School


Esai berikut ini adalah jawaban yang kubuat untuk soal latihan task 2 IELTS yang turut kusertakan disini. Esai ini udah dikoreksi sama guru aku sih, jadi yang ku-post merupakan hasil revisi, hehe.

Kata guru aku, esai aku lumayan bagus, jadi hmm, mungkin dapatlah band IELTS range 6-7 gitu, haha. *maksa

Eniwei, terima ajalah apa adanya esaiku yang tak seberapa mana ini... amin-amin bisa dimengerti alur idenya... ^^
ENJOY!

Question:


It is important to ensure that children with a wide range of abilities and from a variety of social backgrounds mix with each other at school.

To what extent do you agree or disagree?

Give reasons for your answer and include any relevant examples from your own knowledge and experience. (250 words)

Answer:

In today’s globalisation, there is a demand for people to mix and blend with various people from around the world. It is crucial because people are social creatures; and therefore, they need to help each other out. The very first encounter takes place at school.

School as a melting place is a great environment to combine people, in this case, children, with different social backgrounds and abilities as well. However, it is deemed necessary that these children blend with each other. The children can learn to respect others, value others’ strengths and weaknesses, and become more sociable people.

In addition, when these children mix with others who come from socially different backgrounds, they can gain a valuable moral lesson. They can try to understand that there are people who are less fortunate and need help.

In terms of a diversity of abilities, the children can be more motivated and competitive once they know that there are people who excel and are more advanced. They will strive to reach more achievement if they have friends who have a similar competitive streak.

Additionally, a child who is good at Math, for instance, can teach other children in that subject. Therefore, a social and constructive environment can be built upon such relationships.

To sum up, in my opinion, ensuring children blend with each other is obviously important, especially in a school setting. This is one of the ways to promote a deeper and more hand-in-hand relationship amongst children for constructing a better society in the future.

Wednesday, October 5, 2011

WOW!!! I'm so happy I could sleep....


Nah, my blog has reached 10,000 viewers...
hahaha... altho, it's not a remarkable result.

See, this is the proof. I'm saying the truth. Really!

Ahee, I know this is not important.


Tuesday, October 4, 2011

AHA!!! I Got an Idea!

Dan, karena pengen keliatan lebih 'akademis', aku putuskan buat menge-post esai-esai yang jadi tugas selama aku pelatihan ini... I mean, aku mau 'kill two birds with one stone'... ahaha, nice idea ya kan?

SO. From today onward, expect more essays here in my cutie-pie blog (^^):b

Tuesday, September 6, 2011

Laporan Terkini Mudik

Wokeh, dari saya untuk anda... *halah, apa-apaan inih

Laporan langsung dari seorang pemudik (yaitu saya-red) ke kampung halamannya nun jauh di sini.

Setelah tersangkut berjam-jam dan hampir nangis bombay gara-gara kuatir gak sampai ke Semarang (alias kampung halaman pemudik) mengingat kemacetan super parah yang naudzubillah panjangnya berkilo-kilo ngalah-ngalahin Choki-choki, akhirnya pemudik berhasil mengeluarkan diri dari kondisi macet tersebut dan tiba dengan selamat sentosa ke gerbang kemerdekaan, eh, rumah sodara pemudik di tengah kota Semarang tercinta.

Pemudik sukses berlebaran dan bersilaturahmi dengan berbagai lapis jenis persaudaraan serta tak lupa diselingi dengan jalan-jalan, hunting foto, dan belanja-belanji... hehe

Yups, sekian dahulu perkembangan teranyar dari saya untuk anda... *halah, mesti gitu kayak di tipi-tipi

*Pemudik melaporkan langsung dari kediaman sodara pemudik di Semarang, waktu setempat. Perkembangan selanjutnya akan di-update bila ada waktu luang pemudik.

Sekian. Wassalam

Monday, August 15, 2011

Astagfirullah,... Alhamdulillah

Malam ini aku mengetahui dua hal yang sungguh sangat bertolak belakang. Hitam dan putih. Yang satu buruk sedang yang lainnya adalah kebaikan. 

Saat akan berbuka puasa tadi, seorang teman bercerita bahwa ada orang yang mengaku beragama Islam, tapi sama sekali tidak percaya adanya Allah dan Rasul-Nya (benar-benar Naudzubillah). Sungguh mengherankan, mengingat dia repot-repot berkata bahwa dia Muslim. *beragama, tapi tak bertuhan, huh? What the...

Lalu, ada seorang Muslim (berdasarkan KTP-nya-red) mengaku bahwa dia beragama Islam karena Islam adalah agama eyangnya (huh?). Lantas, dia menambahkan bahwa ia menganut paham magisme taat, serta tidak shalat. Ucapannya jelas menunjukkan kalau dia tidak merasa 'Muslim' dalam arti sebenarnya. Astagfirullah...

Sebuah kenyataan yang tak mampu dipungkiri. Pahit. Namun, ini benar adanya. 

Aku berbuka, dengan cerita yang terlalu benar terjadinya. 

Dear God, how I wished it had never happened. We humans... we, have committed what we shouldn't. 

Astagfirullah. Astagfirullah. Astagfirullah.

--hours later--

Setelah aku tarawehan di mesjid dekat rumah kosku, aku surfing internet, seperti biasa walau tidak se-aktif dulu aku buka akun fesbuk.

Tidak ada yang spesial, sampai tiba-tiba ada teman yang update statusnya dengan ungkapan 'manusia kembali ke fitrahnya'. Dan bahwa terjadinya di sebuah mesjid yang cukup terkenal di Banda Aceh, mesjid yang sempat kukunjungi beberapa hari sebelum aku berangkat ke Jakarta, mesjid Al-Makmur Lamprit atau yang lebih dikenal dengan nama mesjid Oman.

Aku tidak mengerti maksudnya hingga beberapa teman yang lain meng-update status mereka dengan isi yang mirip dan kurasa saling berkaitan. Mereka menyebutkan bahwa ada seorang wanita asal Medan yang telah menjadi muallaf kemarin malam usai shalat tarawih.

Wanita itu memilih jalan Islam, mengucapkan dua kalimah syahadat... dan akhirnya sah menjadi bagian dari jama'ah pengikut Rasulullah Muhammad saw. 

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Benar-benar sebuah kesyukuran yang nyata. Rasanya kabar menggembirakan sekaliber ini meski tidak menghilangkan, namun setidaknya dapat mengurangi kesedihan hati bahwa di suatu sudut dunia ini ada orang-orang yang mulai melangkah keluar dari millah Islam.

I'm still so overwhelmed by the breaking news. My heart's tearing...

Ah, tak dinyana negeri Aceh tercinta ini dengan pelbagai aktifitas yang mulai dipenuhi aura negatif masih diberkahi Allah untuk menjadi tempat para pencari jalan kebenaran.

Semoga keberkahan Ramadhan bagi orang-orang yang beriman senantiasa. 
Amin. Amin. Amin.

Who is the Loved One? 
Allah
Who is Ar-Rahman? 
Allah
Who is al-Mannan?

La ilaha illa Allah
Muhammadun Rasulu Allah,
Muhammad is the Messenger
To Allah is our return
La illaha illa Allah

All praise is due to
The One and the Only
He is the Master
Of all creation

He’s the Sustainer
And the Maintainer
Of the whole universe*

*Excerpt of Sami Yusuf 'Who is the Loved One?'

Sunday, July 31, 2011

Sakura in DC: Oriental Beauty in Western Life

Aku suka banget Sakura... ehm, biasalah, ini korban keseringan baca manga Jepang... dimana selalu ada scene dalam manga itu yang menyeret-nyeret Sakura (secara emang cakep banget) ke dalam ceritanya.

Ketika Sakura Bersemi (ini bukan judul sebuah komik-red)
Ada yang tentang cinta pertama di bawah pohon Sakura lah, yang kelopak Sakura-nya pada terbang-terbang tertiup angin musim semi sambil mengenang masa-masa silam lah, yang piknik rame-rame bareng teman, keluarga, kecengan, pasangan, dan handai taulan sambil liatin Sakura mekar lah (ini namanya Hanami), yang bicara rahasia-rahasiaan sama pohon Sakura lah... pokoke, banyaklah adegan yang melibatkan Sakura sebagai momen yang 'sakral' en menyentuh hati gitu. *sadappp, keliatan banget hobi baca komiknya, hehe

Jadi, amat sangat wajar sekali kalo aku pun terkena imbas Sakura yang indah permai itu dan amat sangat berminat untuk melihatnya dengan mata kepala sendiri... dari jarak dekat... en kalo bisa, menyentuh langsung dengan tangan sendiri juga. Heheh. Obsesi yang sangat dangkal emang. 

Bertahun-tahun kemudian, akhirnya cita-citaku kesampaian juga. Pas aku lagi di Amrik, aku sempet ikut konferensi di New York. Waktu itu sekitar akhir Maret. Temenku, Mbak Wati, ngasih info kalo di Washington mau ada National Cherry Blossom Festival karena minggu itu Sakura lagi mekar-mekarnya disana.

Aku kaget juga denger berita kalo Sakura tuh ternyata juga ada di Amerika. Bukannya tuh bunga aseli Jepang, gitu pikiranku bertanya.

Ujung-ujungnya ketahuan deh kalo Sakura tuh emang dari Jepang, en bisa akhirnya tumbuh di Washington gara-gara tuh bunga diberikan oleh pemerintah kota Tokyo, Jepang sebagai tanda persahabatan dengan pemerintah kota Washington, Amrik. Dan festival ini menandai tanggal penghadiahan pohon-pohon Sakura Jepang, yaitu pada 27 Maret 1912 yang lampau itu. Hmm, gitu toh ceritanya. I see, I see.

Abis terkena bujukan Mbak Wati buat liat festival Sakura, aku pun tidak merasa rugi udah jauh-jauh kuliah sampe ke Amrik. Ternyata, semua emang ada hikmahnya, temans. Impian aku buat ke Jepang bisa seenggaknya terlunaskan dengan menikmati mekarnya Sakura di Washington, DC.

Gak usah repot mesan tiket pesawat sampe ke negri seberang samudra, kalo dengan naek bis Peterpan beberapa jam udah bisa pantengin si Sakura yang lagi bersemi-seminya. Mantraps. 

But. Ada tapinya nih. Ternyata, si Sakura ini kalo mekar gak pake lama. Cuma bertahan sekitar dua mingguan gitu. Whew. Abis itu dia menggugurkan semua kelopaknya, en... sampai berjumpa lagi di musim semi yang akan datang. Um, mungkin karena ini juga kali ya, yang ngebikin masyarakat Jepang jadi sangat menghargai kehadiran Sakura. Soalnya, emang cuma bentar banget bunganya mekar. Udah gitu, ilang, ilang, ilang...

Maka, udah barang tentu aku harus sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan yang jarang-jarang kutemui itu. Sebagai orang yang patut berterima kasih en membagi kebahagiaan dengan sesama makhluk, aku dengan ini memunculkan beberapa foto di festival Sakura itu yang bisa kuabadikan.

Ehm, kalo fotonya cakep, tolong diberi pujian (hehe). Tapi, kalo dirasa gak cakep-cakep amat, tolong diam sahaja. *yeah, emang saya orangnya pingin denger yang bagus-bagus aja...hehe, so, dilarang complaint!!!
 








[all photos were taken in Washington, DC, on March 28, 2008]

Ke Jakarta Aku 'Kan Kembali...

Yo, yo, yo, what's up?! Ada berita terkini dari aku. *sok saingan ama si Nazaruddin

Sekarang ini, aku udah menjejak di 'sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam ibukota' Jakarta Raya. Sang kota tersibuk, terpadat, termacet se-Indonesia ini akhirnya kusinggahi untuk yang kesekian kalinya.

Bedanya, dulu-dulu aku kesini tuh cuma bertahan beberapa hari aja secara emang urusan yang perlu diselesaikan juga siap dalam itungan hari, nah, yang sekarang akan makan waktu yang cukup lama. Um, ada sekitar 2 bulanan gitu deh... *kira-kira udah bisa dianggap warga kota Jakarta belom ya? hehe

Aku bakalan ikut training yang... begitu kucermati jadwal belajarnya langsung sukses bikin aku mabok. Sumpe dah, belajarnya dari jam setengah 8 (gosipnya malah jam 7 berhubung bulan puasa gini, hieee, bener-bener horor dah) sampe jam 3 sore. Full, Monday to Friday. Ajib. *Sungguh... gak gue banget neh...

Anyhow, aku mau puas-puasin leha-leha di satu hari besok sebelum memulai jihad terbesar dalam hidup ini: Puasa. Yup, bener banget, sebelum kita berpuasa...marilah kita berpuas-puasin dengan apa yang ada. Kumpulin bahan pangan... lalu, mulai hibernasi. Fufufu. *cih, lu kate beruang?

::: napa harus kenak di bulan puasa seh trainingnya (TT.TT) oh, nasib, ya nasib... trima ajalah, nduk...

Friday, July 15, 2011

Hasta La Vista, Friendster!

Iseng-iseng tadi aku ngecek akun frenster yang kadang masih kujadikan tempat curhat. Biasa sih, aku juga update postingan blog yang emang tersedia di frenster.

Tapi, pas tadi aku cek, eh, blog frensterku gak mau kebuka. Gak tau kenapa. Trus, aku nyoba log in ke akunku. Eh, malah di-direct ke sebuah tampilan frenster yang baru. 

Frenster udah ganti baju, sodara-sodara. Kaget, euy!

Gak patah arang, aku masukin email en password yang biasanya. Aje gile, waks! Aku gak bisa log in. Wah, frenster ngajak berantem, nih, dragon-dragonnya.

Begitu ditelusuri (cailah, bahasanya), emang frenster udah kasih notifikasi ke email en bilang kalo mereka bakal ganti platform plus tampilannya tentu aja. Cuma, aku gak nyangka kalo perubahan itu bakal merenggut (cailah, lagi-lagi bahasanya) semua isi dalam akunku. Email en password, udah so pasti ilang juga.

Akibatnya udah bisa ketebak, dong. Aku musti buka akun baru di frenster baru ini.

Dan, kulakukanlah. Aku nyoba masuk lewat akun fesbuk, karena ternyata si neo frenster ini nyediain link yang nyambung sama fesbuk.

Pas berhasil masuk, aku terkesima. Wuih, canggih amat nih neo frenster. Colorful, folks!

Pas udah gak terkesima lagi, aku tersadar. Ini udah beda! Eh, emang udah dibilang sih, cuma yang bikin kerasa signifikan bedanya tuh karena frenster baru ini mengusung platform GAME!!!

Aish, banyak nian game-nya. 

En, untuk fitur-fitur tambahan, gak jauh beda sama fesbuk, secara intinya emang untuk jadi social gaming network.

Ah, untukku sih, karena bukan gamefreak, aku milih nutup akun frenster yang baru semenit lalu kubuka. Abis mau gimana lagi, aku make frenster ini sebenernya juga buat nge-blog en nge-update status yang males kutulis di fesbuk. Hehe.

Yah, karena para higher-ups frenster pengen buat perubahan, aku support bangetlah sebagai pengguna frenster hingga detik-detik terakhirnya. Hanya saja, ada kalanya itu gak cocok buat beberapa orang. Misalnya, aku... gitu. Hehe.

Maka dari itulah... terpaksa banget, aku harus ngucapin selamat tinggal buat neo frenster.

Mudah-mudahan sih, kalo platform-nya diupgrade jadi beda lagi, rilisan terbaru frenster itu bisa menggugah seleraku. *iklan kalee  

But, before that, aku mau ngucapin terima kasih banyak untuk friendster yang udah menjadi jejaring sosial pertama yang mendorong jejaring laba-laba lainnya buat berinovasi. 

I really really really had so much fun with you. Thank you.


Hasta La Vista, Friendster!


Friendster logo dari masa ke masa

zaman paleolitikum

zaman mesolitikum

zaman neolitikum

Wednesday, July 13, 2011

Beruntungnya Bayi-Bayi Sekarang

Kemaren aku ke kantor walikota buat nyari info akte kelahiran yang versi bahasa Inggris. 

Ehm, mungkin ada yang bertanya kenapa urusan akte lahir pun jadi masalah walikota? Begini sodara-sodara, walikota enggak ngurusin tetek bengek akte kelahiran masyarakat kota, tapi itu gara-gara kantor dinas kependudukan udah pindah kesitu dan akhirnya jadi bersatu dengan gedung walikota, walhasil segala urusan per-pendudukan perkotaan pun jadi urusan per-walikota-an.

Awalnya sih aku enggak sadar, jadi berangkatlah aku ke kantor dinas kependudukan yang lama. Sampe disana, aku tiba-tiba dapat firasat. Kantor dinas kependudukan udah beda atmosfernya dari pas terakhir kali aku kesana ngurus KTP.

Mengikuti firasat, aku pun ngecek nama kantor itu yang terpampang gede-gede walo sayangnya agak ketutup sama dedaun dan ranting-ranting pohon yang besarnya tak usah kau tanya.

Eh, kok namanya bukan 'kependudukan' yah? Aku jadi bego. Menurut penglihatanku yang masih bagus dan tanpa kacamata ini, tulisan nama kantornya jadi 'pemberdayaan masyarakat' gitu deh. Sempat sih aku mikir, emangnya ada gitu kantor yang mengurusi masalah ginian. Hehe.

Karena aku udah terlanjur mengarahkan motor masuk ke wilayah kantor itu, sekalian aja aku tanya-tanya sama orang-orang di kantor tadi. Berharap kalo yang kubaca itu salah, dan sesungguhnya Islam itu indah.

Berdasarkan penuturan orang-orang di kantor itu, dinas kependudukan udah pindah lokasi ke kantor walikota. Udah lama, kata mereka.

Oh, yeah, jadi aku lagi-lagi ketinggalan berita. Great!

Abis ngucapin makasih, aku pun tancap gas menuju kantor walikota yang hampir tiap hari aku lewatin kalo mau ngajar ke kampus.

gedung balai kota Banda Aceh (skyscrappercity.com)
Gedung balai kota alias gedung walikota Banda Aceh ini baru dibangun, jadi lebih bagus dari yang sebelumnya.

Kemaren itulah untuk pertama kali aku menjejak kaki kesitu setelah lama berkontribusi membuang karbondioksida di kota ini. Hehe.

Berhubung enggak mungkin nyeret-nyeret motor masuk ke dalam gedung (ya iyalah), kuparkirkan aja dia di tempat yang tersedia.

Karena itu debut perdana aku masuk, aku jadi penasaran banget sama isi interior dalamnya. Yah, kan kalo dari luar, kelihatan wah en gimana gitu.

Pas di dalam, aku cukup terkesan, walo enggak ada yang surprising banget. Maunya sih pas masuk, ada gebyar berhadiah bagi pengunjung ke-1000 gitu. Ngarep terus.

Oke, kembali ke urusan awal.

Tadinya kukira bakal ribet nyari dinas kependudukan yang udah relokasi, ternyata dia terletak pas di bagian lobby gedung balai kota. Aih, gampang pisan, euy.

Celingak-celinguk kanan-kiri depan-belakang, aku akhirnya ke meja yang cukup sibuk dan melayangkan pertanyaan seputar urusan akte lahir.

Karena kubilang aku perlu akte berbahasa Inggris, jadi bapak-bapak di meja itu menyuruhku ke bagian lain. Kayaknya yang lebih ngerti urusan akte-meng-akte gitu.

Di bagian itu, aku nanya-nanya tentang kemungkinan akte lahir diterjemahkan ke bahasa Inggris, secara aku udah punya yang versi bahasa Indonesia.

Si ibu disitu ngasih lihat akte lahir yang tersedia di kantor itu, yang rupanya versi bilingual, ada Indonesia dan Inggrisnya sekalian. Ajib. Cakep banget.

Akte versi ginian udah beberapa tahun berjalan. Setelah tsunami, makin gencar dokumen-dokumen diubah jadi punya versi bahasa Inggrisnya. So, bayi-bayi yang lahir sekarang udah enggak perlu susah mikirin mau terjemahin dokumennya ke bahasa internasional. Di era yang udah makin canggih ini, para bayi bisa tenang dan gampang kalo mau ngurus kuliah ke luar negeri atau berhubungan dengan masyarakat dunia lainnya.

Tapi... masalahku masih belum ada jalan keluar nih.

Trus, kutanya tentang kemungkinan akteku dilegalisir di Banda Aceh. Again, karena aku kelahiran Sigli, jadi otomatis aku harus minta dilegalisir di kota Sigli. Oh, wow. Makin great.

Bisa aja dilegalisir di Banda Aceh asalkan udah diterjemahkan di Sigli. Hadoh, itu mah sama aja. Ke Sigli juga kuharus kembali.

Ujung-ujungnya, aku ke lembaga bahasa Unsyiah, dan minta diterjemahkan disana.

Next step... Nah, ini dia. Dokumen itu harus entah gimana caranya ada di Sigli dan disahkan di kantor kependudukan sana.

Karena aku enggak bisa mudik lama karena aku kerja sepanjang minggu, ditambah aku bukan tipe orang yang sanggup bolak-balik Banda Aceh-Sigli dalam itungan satu hari satu malam, terpaksa aku mengerahkan sukarelawan di Sigli saja.

Cuma itu yang bisa kupikirin sekarang. Gak tau lagi deh gimana mau selesainnya.

Yang aku tau pasti adalah:  
Jadi anak bayi yang dilahirin di masa ini beruntung banget. Kelak pas dia udah gede en mau lanjut sekolah ke luar Indonesia, urusan trenslet-mentrenslet dokumen ke bahasa Inggris gak perlu jadi problem. Semua udah ready served, baby!

Monday, July 11, 2011

Sekadar Update Doang...

Hee... Blogger ngubah tampilan di dashboardnya... huehehe, aku cukup senaaang. 

Jadi critanya ini post pertama aku setelah perubahan besar-besaran dari Blogger buat para pemakenya.

Hmm, ini kayak tampilan apa ya layout dashboardnya? Gak tahu bilang juga sih, abis aku kurang bisa mengekspresikan dengan kata-kata yang cocok sama keadaan ini. But, yang jelas, layout-nya aku suka banget, en jadi pengen sering-sering update aja... hehe

Trus, trus, pas mau set label-nya juga asik banget... kalo maren-maren aku harus ngetik satu-satu nama label-nya, sekarang aku cuma tinggal nge-klik label-label yang udah ada. Bahagia.

*padahal yang ditulis sekarang bukan yang bagus-bagus amat juga... hehehe

Monday, July 4, 2011

Gue, Documented ver. 10.1.08

Waktu aku masih kuliah di UMass Amherst, Dining Commons-nya sering ngadain event yang juga ngundang chef-chef tamu dari luar kampus.

Chef Chai Siriyan en anaknya, Kass,
sang chef tamu asal Thailand
Nah, gitu juga di suatu malam itu, 1 Oktober 2008, Worcester Dining Commons (salah satu dari Dining Commons yang ada di kampus aku) ngundang chef tamu yang bakalan masakin kuliner Thailand. Tema event yang diusung malam itu adalah "A Taste of Thailand". Begitu.

Maka, berhubung aku adalah sosok yang sangat cinta makanan, apalagi yang kita lagi bicarain adalah Dining Commons kampus yang ngebolehin kita makan sebanyaknya sesuka-suka hati kita alias all-you-care-to-eat, muncullah aku dengan gembira ke event malam itu.

Eh, pas aku lagi nentengin nampan en bersiap-siap mo ngambilin makanan yang udah tergeletak menggugah selera itu, tiba-tiba tukang poto event malam itu nyampirin aku en nanya-nanya apa boleh dia poto aku yang lagi ngambilin makanan... (wohoho, tentu aja boleh, asal dia motonya bagus en gak terliat aku lagi ileran di depan stand makanan)

Setelah aku bilang oke, dia langsung pasang kuda-kuda mo motret aku bersama ibu-ibu Thailand yang ngejaga stand itu. Trus, karena kayaknya aku kurang potogenik, dia request aku buat senyum yang lebaaar begitu supaya keliatan cakepan... (kalee)

SO, sebagai buktinya, sini kucantumkan foto yang udah dipajang di website Dining Commons kampus kami. 

Wuihh, kalo kayak gini sering-sering sih, bisa-bisa bentar lagi aku jadi famous dah... fufufu

Gih, liat di sini aja yang lebih lengkap lagi, okey...at: UMass Worcester Dining Commons

dalem ati gue teriak-teriak: "mas bule, kalo jadinya kayak itik buruk rupa, tulung si poto diapus aja yah... gak enak saya sama penggemar-penggemar saya yang udah berharap lebih... oke ya...ya, ya, ya..."

Monday, June 20, 2011

Lir-ilir, Hiduplah Bagai Air Mengalir...

Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar

Cah angon, cah angon 
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno 
Kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro, dodotiro 
Kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono, jlumatono 
Kanggo sebo mengko sore

Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane 
Yo surak'o, surak hiyo… 

Tembang tradisional di atas kerap dilantunkan olehku dan teman-teman sepermainan waktu masih bocah dulu. Persisnya saat aku masih sekolah di sebuah TK di Yogya. Sayangnya, aku tidak begitu ingat jelas apa permainannya, karena itu terjadi kala aku masih sangat imut sekali (ehm).

Seingatku, tembang itu kami nyanyikan sama-sama sambil bermain macam-macam. Mungkin, karena begitu seringnya kami melantunkannya, aku samar-samar masih mengingat beberapa lirik tembang tadi.

Hanya saja, aku tidak hapal seluruh bait syairnya, sehingga aku mencoba bertanya ke ibuku, yang kemudian mengaku tidak hapal juga, yah, akibat faktor usia mungkin... hehehe.

Akhirul cerita, aku mencari lirik lengkapnya di Google. Dan, sungguh mengagumkan, ternyata ada banyak situs yang menyebutkan tembang tersebut... beserta artinya.

Aku benar-benar tidak menyangka kalau dolanan yang kami bawakan saat kecil dulu ternyata mengandung makna yang begitu dalam. Dan bahwa sebenarnya, tembang tersebut digubah oleh para Walisongo yang masyhur di tanah Jawa. Namun, tidak diketahui secara pasti Wali yang mana yang telah menciptakannya, karena sumbernya sangat kabur. Ada yang menyebut Sunan Bonang, atau Sunan Kalijaga, atau Sunan Ampel, tapi yang pasti, semua Walisongo tersebut menjadikan dolanan ini sebagai alat penyebaran Islam di tanah Jawa.

Para Walisongo memang terkenal suka menyebarkan Islam di Jawa dengan media budaya atau instrumen, seperti gambelan. Hal ini sangat efektif mengingat masyarakat Jawa menyukai musik dan tarian, sehingga Islam bisa diterima dengan tanpa paksaan.

Lalu, dolanan anak-anak juga merupakan cara para Walisongo untuk mengenalkan Islam, terutama di kalangan anak kecil. Salah satunya adalah tembang di atas, yang berjudul "Lir ilir".

Lir ilir ini punya arti yang kuat bila kita ingin mengurai per kata syair lagunya. Dan bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia, maka artinya kurang lebih begini: 

Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau 
Bagaikan gairah pengantin baru

Anak penggembala, 
tolong panjatkan pohon blimbing itu
Walaupun licin(susah)
tetap panjatlah untuk mencuci pakaian

Pakaian-pakaian yang koyak(buruk)disisihkan
Jahitlah, benahilah, untuk menghadap nanti sore

Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

Dan, bila kita ingin membedah makna simbolik yang tersebut dalam tembang Lir ilir ini, maka akan kita dapatkan maksud sebenarnya dari para Walisongo dahulu dalam usaha mereka menyebarkan Islam ke semua lapisan masyarakat.

Simbol-simbol yang tercantum seperti cah angon atau temanten anyar, merupakan kiasan para Wali untuk merujuk pada hal-hal dalam masyarakat, dan juga karena para Wali sangat mengerti psikologi orang-orang Jawa yang cenderung menggemari simbol-simbol.

Dengan cara ini, para Wali telah mendekati hati masyarakat dengan menyusupi relung-relung jiwa mereka secara tidak langsung agar memahami Islam dan mengamalkannya selalu senantiasa.

Di bawah ini adalah uraian singkat mengenai lirik dalam dolanan anak "Lir ilir" yang aku kutip dari sebuah blog. (terima kasih buat dnuxminds@wordpress.com atas deskripsi sederhana yang sangat informatif dan bermanfaat ini)

  • Makna tembang 'Lir ilir'

Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure (hu)wus sumilir
Terjemahan: Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi

Penjelasan: Para Walisongo mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.

Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
Terjemahan: Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru

Penjelasan: Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya.

Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
Terjemahan: Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu

Penjelasan: Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun Islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan oleh para Wali untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu.

Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira
Terjemahan: Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodotmu

Penjelasan: Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara/saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, dan terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet.

Dengan kalimat ini, para Wali memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa.

Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir
Terjemahan: Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek

Penjelasan: Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.


Dondomana, jlumatana, kanggo sebo mengko sore
Terjemahan: Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gusti-mu) nanti sore

Penjelasan: Sebo artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut ‘paseban’ yaitu tempat menghadap raja. Disini para Wali memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah swt. di hari akhir nanti.

Mumpung gedhe rembulane, mumpun jembar kalangane
Terjemahan: Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang

Penjelasan: Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu.

Ya surak'o, surak hiyo
Terjemahan: Mari bersorak, berteriak... Ayo

Penjelasan: Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa, maka, sudah sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.

Demikianlah petuah dari para Walisongo lima abad yang lalu, yang sampai saat ini pun masih tetap terasa relevansinya. Semoga petuah dari para Waliyullah ini membuat kita semakin bersemangat dalam menjalankan ibadah kita di bulan yang penuh rahmat ini. Amin, amin, amin.
(credit to: dnuxminds@wordpress.com)