Configuration

"between the good and the bad is where

you'll find me reaching for heaven"















FrenshiPath

Daisypath - Personal pictureDaisypath Friendship tickers

Wednesday, February 22, 2012

Fear Not, You Can Do Just as Well!

Below is the article I wrote (after being edited excellently before it was published :)) for the International Students newsletter at UNSW, the Uni where I'm pursuing my postgrad studies currently.

Frankly speaking, I thought it was compulsory for us to contribute; turned out it was supposed to be voluntary. And here I ended up sending my writing to the newsletter. It's fun, though. Haha.

--------
---------------
--------


The Introductory Academic Program provided me with great insight into what life will be like at UNSW. Prior to coming to Australia, I took an English Academic Program (EAP) provided by the AusAID representative in Indonesia. At the time, I thought the IAP would provide me with somewhat similar knowledge and skills that I had obtained during the EAP in Indonesia.

Despite my concerns, I still decided to take part in the IAP, never missing a single class or assignment. And as a result, I came to understand that Uni life would not just be about study and that I should try my best to adapt to this new and unfamiliar learning environment by participating in as many activities and opportunities I can.

My biggest concern has always related to tutorial work. I felt anxious about  how well I would perform after many said that tutorials would often involve heated discussions. But then, I discovered that my fear was too excessive. My IAP instructor, Lorraine, helped me greatly in overcoming my fear and also helped me improve my skills in academic writing. She showed me that in fact, an international student like me could do just as well as any local student in Australia. My article review, which I thought might be an absolute disaster, actually came out quite well. Knowing all this, I guess my anxieties were unfounded and I was really expecting the worse for no reason. But, what is more important: I’m glad I made the right choice to attend the IAP, it was definitely worth it!

Sunday, February 19, 2012

Tempat Wudhu Asyik.. ^__^

Uni-ku asik punya, enggak disangka ternyata UNSW ini nyediain religious centre buwat beribadah pemeluk agama-agama. *walo jarak tempuh ke sini tuh dari ruang kuliah ada sekilo-an... T__T

Nah, kalo untuk yang Muslim nih, Uni ini ngasih fasilitas mushalla buwat laki-laki dan perempuan yang letaknya terpisah. 

Di samping itu, tempat wudhu nya juga diset terpisah. 

Kalo tempat wudhu laki-laki sih aku enggak tahu wujudnya (kan kagak mungkin aku nyelonong kesono... gila aja!), tapi pasti kurang lebih mirip lah sama yang kayak tempat wudhu perempuan. Masa iya, bakal beda jauh bagai langit dan bumi... *lebai deh

So sob, ini dia si jali-jali.. eh, si tempat wudhu-an perempuan yang sengaja kudokumentasikan buwat kelestarian blog ini... hahaha

bersih banget ya gak sih, pokoke top dah... d:(^^):b

ada dudukannya juga, lhooo....

Tuesday, February 14, 2012

Nomer Cantiks... hee


I love this numero... bagai deretan aritmatika... *tsaaaah

Tuesday, January 24, 2012

Oyee, rasanya pengen upgrade ingatan...

nah, gua awal-awal tuh emang udah firasat, pasti bakal ada barang yang tertinggal dengan sukses. biar gua udah koar-koar di sini dan berdoa agar supaya tidak meninggalkan apa pun yang dirasa penting --tidak seperti gajah yang meninggalkan gadingnya, ato juga harimau yang meninggalkan belangnya-- gua berharap banget ingatan gua tuh setia tanpa akhir. 

namun, apa hendak dikata. gua meninggalkannya juga... duh. padahal perannya cukup signifikan untuk kehidupan hari-hari. contohnya: makan shalat.

yep, that's rite (kali-kali ada yang nebak, hee). kompas yang dengan susah payah dibeli dengan melobi mas-mas penjualnya biar dapet lebih murah sempat ketinggalan juga. gua tersadar pas udah nyampe bandara soeta jakarta. wah, kebayang dong, itu kompas bakal mahal banget kalo gua beli di luar negri... walhasil, gua meras otak. TING... (ilustrasi: pake ada muncul lampu). ada satu temen (yang kebetulan bakal berangkat bareng-bareng gua) yang masih di banda aceh dan dengan semangat yang tidak dibuat-buat langsung aja gua telpon buat menjemput si kompas di rumah kos-an gua --menurut pengakuan dia, dia sempat muter-muter saking gak tau yang mana rumah gua...hehe, maafkan--

okeh, jadi case closed buat si kompas. dia bisa kudapetin kembali. cuma sekarang-sekarang, ada sebiji benda yang gua kangenin banget keberadaannya. try guessing... laptop? ini kan lagi dipake... hape? dia duluan malah... kamera? udah kuseret juga... sepatu? maunya sih lupa, tapi gua jalan pake apa dong... sandal? rok? baju? kaos kaki??? nooo, it's jam tangan! gua telah terlupa membeli jam tangan baru. heuheu...

jadi begini ya, bagi gua tuh, jam tangan adalah objek terpenting setelah alas bedak dan jilbab. *hlah, emang ada hubungan? hehe...

bener loh, gua menganggap jam sebagai bagian paling urgen dalam hidup hari-hari. dan saking gua rasa signifikan perannya, dia kupake di tangan kanan. akhirnya, kalo ada suatu waktu gua gak lagi memakai jam, rasanya kayak ada yang hilang. 

maka, karena gak enak banget kalo tangan kanan gua kosong tanpa mengenakan apa pun, kuputuskanlah buat memakai gelang. gelangnya sih biasa aja, warna putih gitu, cuma karena ada talinya jadi alam bawah sadar gua kayak merasa itu adalah jam tangan.

berulang kali gua ngeliat ke arah tangan kanan dan menemukan kalo itu (lagi-lagi) bukan jam. haah... nampaknya gua udah harus segera membeli jam baru di sini, sebelum gua frustasi tiap kali liat tangan kanan, gua harus menerima kenyataan pahit bahwasanya jam gua gak lagi nangkring di sana.
 i miss you, jam... hope to see you soon.  
 *halah... melebai ini...

Saturday, January 14, 2012

Get, Ready,... Woops, Wait a Minute!

Voila, semua udah selese ya... cuman aku kok teteup kuatir ada yang ketinggalan ini. Apa pasal? Senin depan aku berangkat ke Oz (iye, aku baru tau kalo orang Aussie tuh bilangnya Oz buat negara ndiri, hm, info yang amat bermanfaat) trus menurut aturan bagasi pesawat yang bakal kunaiki, masing-masing penumpang boleh bawa barang maksimal 30 kilo. Yah, cukup besar muatannya kan? En, gua pun senang.

Eh, tapi, karena sebelum itu aku naik pesawat domestik, aturan ini agak kurang menguntungkan pihakku.

Dari Banda Aceh ke Jakarta tuh kan masih dalam negeri, otomatis berat barang bagasi yang diperbolehkan cuma 20 kilo aja... higs, minus 10 kilo kan tuh. Gua bersedih...

Coba, sekarang satu-satunya jalan kan aku harus mengalihkan sebagian barang bawaan ke kabin. Yang gini-gini tuh yang bikin ribet, soalnya setelah nitip koper ke bagasi, aku musti nentengin tas ransel satu biji (yang udah cukup berat dengan isian laptop dan kamera DSLR) plus, satu lagi tas tentengan yang entahlah aku gak tau berapa beratnya dia. Yang jelas masih sanggup kuseret. Hee...

Nah, di atas semua itu, ada yang masih aku pikirkan... banget. Apalagi yang harus kubawa? Gimana kalo ada yang penting tapi malah tertinggal? Trus yang terpenting, gimana caranya mengelabui timbangan bandara berikut petugasnya??? Mengingat aku hobi lupa, hyaa... Oh, God. Gua emang parah. Abisnya... ƪ(‾ε‾“)ʃ