Configuration

"between the good and the bad is where

you'll find me reaching for heaven"















FrenshiPath

Daisypath - Personal pictureDaisypath Friendship tickers

Thursday, April 8, 2010

Molly and Me: Our Story

Membaca note di Uul, tentang masa-masa kita semotor ber-tarik-tiga, berbonceng-ria, tanpa helm secukupnya, sambil berfoto-foto dengan gaya ‘norak dan gila yang sanggup dibayangkan orang tua kita’ yang untung saja peraturan lalu lintas di kota Banda Aceh ini belum se’ketat’ sekarang, membuat sel-sel di otak ini memutar kembali memori yang telah lama tak tersentuh. Menyadari bahwa ternyata kita, di tahun-tahun terakhir ini, menjadi tidak seakrab masa itu, saat kita terbiasa bercengkerama dan berbagi hari merajut cita-cita di fakultas Impian universitas Harapan anak-anak Nanggroe Aceh Darussalam.

Pilihan untuk meninggalkan dunia keperawatan dan semua yang berbau kesehatan, sesungguhnya bukan karena jenuh dengan peliknya jam-jam perkuliahan maupun lelah menunggu kehadiran dosen-dosen kita yang super sibuk dengan tugasnya, melainkan semata karena jiwa ini tidak sanggup menahan beban yang melebihi kemampuannya. Apa yang terjadi di tahun 2004 itu Mol, berhasil memaksa diri untuk menghancurkan impian-impian yang telah tertata dan membangun kembali harapan-harapan dari titik awalnya lagi. Tapi, tidak ada yang harus disesali, karena hikmah selalu ada di balik segala kejadian. Pasti.

Memutar ulang kisah kita, Mol, telah menjadi sebuah kebiasaan baru. Saat ketika waktu kita, gank Cinta (itu kan ya, nama gank yang ditetapkan sama Uul? Ide darimana lagi dia itu?^^) belajar kelompok bersama di rumah kos-an ane, dengan persiapan bekal bagai kemping di hutan—belum ditambah kita harus membeli nasi buat makan malam dulu, membeli hewan-hewan percobaan buat praktikum (diiringi rasa tega-tidak tega untuk membedahnya), membawa perlengkapan buat kuliah untuk esok harinya, sampai harus merelakan diri bergelap-gulita gara-gara mati lampu dan genset pun telah berakhir masa baktinya—walau pada akhirnya, persentase gossip meningkat menjadi hampir 80% dan belajar menurun hingga 20%...plus ternyata harus bangun lagi setelah midnite akibat kita ‘secara tragis’ belum menghabiskan semua bahan yang bakal diujiankan…Seperti sudah diduga, kisah kita benar-benar penuh ‘cobaan’ ya…

Kapan itu juga, kita se-gank, ane, ente, Uul, Ulfah, dan Mina, secara kompak dan terencana memutuskan untuk memanjat Tower di kampus FK (masih ada dokumentasinya, Mol?) Ditambah bahwa kita juga turut andil dalam menambah daftar coretan di dinding Tower itu…(Aha!). Lalu, sampai detik ini, sebuah pertanyaan terus mengusik hati, apakah sebelum dan sesudah kita, ada kasus cewek-cewek yang mengaku muslimah baik-baik menaiki si Tower? Kalau harus reuni, perlu tidak kita mengajak suami dan anak-anak kita di masa depan bertemu di situ lagi? Memperkenalkan pada mereka bahwa di sinilah kita dahulu melakukan kegiatan di kala senggang sekali…hmm…tak terbayangkan serunya! Setuju, kan?

Tetapi jujur, karena masa itu juga masa ketika ane harus membelah diri, menyaingi kemampuan si amuba akibat kuliah di dua tempat, akhirnya hanya ke ente, Mol, ane cenderung lebih dekat…yang mungkin ini terjadi karena kita berdua alumni se-almamater, walaupun sebenarnya ente itu adek letting ane di SMA. Dan walaupun, sebagai seorang adek letting, ente termasuk yang ‘berani’ memanggil-manggil ane tanpa embel-embel ‘Kak’...(^^)…Awalnya memang terasa ganjil di pendengaran, namun lambat laun, seiring hari-hari yang terlewatkan dan jalinan pertemanan yang teruntai di atas ‘kekacauan’ hirarki senioritas dan turunannya, ane mampu mencerna gaya ente Mol, hingga berujung terbongkarnya rahasia kecil ane ke ente…(ahahaha)…

Molly, sampai sekarang rahasia kecil itu masih tersimpan rapat, kan? Di Sabtu lalu waktu kita chatting via Skype, ente ternyata masih ‘berani’ membuka cerita lama itu (hehe)…Bukan masalah juga, karena ‘rasa’ itu telah lama pergi tidak bersisa sama sekali dan lembaran cerita itupun usai sudah. Terus, kenapa Mol, ente pikir ane menyinggung masalah ini? Karena pada kenyataannya, orang pertama yang berhasil membuat ane membuka diri begitu dalam tentang sesuatu yang bahkan teman-teman dekat ane di SMA saja tidak ketahui…meski mungkin dulu mereka juga menebak-nebak kebenarannya…adalah Maulidar. Salut ke ente, Mol, bahwa sisi diri yang tertutup ini bisa ‘terjebak’ dan menyerah untuk membocorkan rahasia itu… (-.-):b

Mol, pribadi ente memang tidak se-sabar dan se-kalem Mola, tapi kuatnya karakter ente memberi nuansa tersendiri. Ane pernah bilang, kan? Kalau wajah ente, Molly, penuh ekspresi, sangat jelas tergambar di kala senang, sedih, atau marah…tipikal yang dibutuhkan seorang aktris (ehm)…kontras dengan ane, yang menurut ane sendiri dan sebagian besar orang lainnya bahwa wajah ane ‘expressionless’ (walah, walah)... Juga. Meskipun ente cenderung terang dan blak-blakan, tapi kata-kata ente sebenarnya mendekati apa yang ane ingin katakan ke seluruh dunia, sifat yang sebenarnya ingin sekali bisa diri ini miliki. Bahwa, meskipun akan menghampiri kita kata-kata yang bisa saja berupa pujian, kecaman atau bahkan sindiran, tapi kejujuran mengungkapkan fakta adalah satu nilai ente yang tetap belum bisa ane teladani.

Terkadang, kebaikan tidak selalu datang dari hal-hal yang berwujud kelembutan. Bila boleh menganalogikan Nikmal Maula dengan sahabat Rasulullah, Abu Bakar, maka Maulidar merupakan pencitraan kecil dari Umar bin Khattab. Seperti yang ente ketahui, bahwa ketegasan sifat Umar membuatnya ditakuti sekaligus disegani dan dikagumi kawan dan lawan.

Adalah satu hal yang selalu ane yakini berasal dari jawaban atas doa-doa yang didengarkan sang Rabbul Izzati, bahwa dalam setiap pribadi orang yang ane kenal dengan baik dan benar, terdapat caranya sendiri menularkan kebaikan ke diri ini yang kerap kali terjatuh dalam kesalahan dan kekeliruan dalam melangkah di dunia yang fana ini.

Dan, salah satu orang yang telah turut melekatkan warna tegasnya di diri ini adalah seorang ibu dari seorang putri bernama Khansa, seorang istri dari seorang lelaki bernama Romi Arief. Seorang Maulidar.


Untuk Molly,
Atas segala kisah yang kita rangkai dan alami bersama di suatu ketika sebelum rutinitas-rutinitas dunia menjadi salah satu penghalang kebersamaan.
Atas segala tausiyahmu itu.
Atas ketidakhadiran di pernikahanmu itu, kuucapkan maaf pula.
Semoga Allah memberkahi keluarga kalian dengan sakinah, mawaddah dan rahmah…Amiin.

.Ika.

“For something that irreplaceable, I vow to my pounding heartbeats, I’ll keep on running until I burn up.
Within the eternal love, which I can feel it indeed surviving, it’s a promise that I want to fulfill” (Gunslinger Girl II OST)

Thursday, March 25, 2010

A Post to Heaven: My Memory

Mengenang kembali percakapan-percakapan kecil di antara sahabat, yang dengan ide kreatifnya telah dituangkan menjadi sebuah catatan hidup bagiku hingga saat ini. Ternyata, meski masih ada cita-cita yang sedang kuperjuangkan, banyak pula yang harus rela kutinggalkan. Kepada seorang sahabat terbaik yang pernah kumiliki, kukirimkan kenangan ini ke tempatmu yang baru di sana. Semoga Allah menerima segala amal kebaikan yang telah kau torehkan di dunia ini. Amin. (Isi seluruh bagian percakapan ini tertera sebagaimana aslinya dan merupakan cuplikan dari buku karya Atik dan Enny sebagai hadiah untuk diriku)
________________________________________________

(Setiap orang pasti punya harapan di masa yang akan datang. Sebagai manusia yang masih normal, Ika juga punya harapan-harapan. Penasaran?! Ayo kita intip lagi harapan itu. (buat Ika: dilarang senyum atau protes))

Atik (A): Cita-cita kamu...
Ika (I): Pingin jadi wanita shalehah.

A: Seperti lagunya ”Dau Ming Tse” ya? hihihi...
I: Enak aja...itu cita-cita jangka panjang aku...

A: O...kalo cita-cita jangka pendek, gimana?
I: Maksudnya?

A: Pekerjaan gitu, kamu kan kuliah di dua tempat (amphibi), jadi entar kalo udah kelar pinginnya gimana?
I: Ya, dua-duanya...

A: Wuih, jangan sok lah (mentang-mentang nge-fan sama ”Fsok”). Perawat dan guru kan dua dunia yang berbeda, maksudnya...kamu lebih condong kemana?
I: Ya...mana yang dapet! Kalo kerja jadi guru dapat lowongan, ya jadi guru. Kalo jadi nurse lebih menjanjikan, ya jadi nurse.

A: Gawat tuh, berarti kamu gak punya komitmen dong, ikut angin aja. Bahaya nih!
I: Biarin aja, hidup kan penuh persaingan. Kita harus pinter-pinter mencari celah buat sukses.

A: Matre, ihh...
I: Matre-an siapa sama kamu?

A: He...he...he...kok tahu?
I: Tau aja!

A: Trus pendapat kamu tentang nurse itu sendiri gimana?
I: Ya…nurse itu suatu profesi yang cukup baik sebenarnya. Apalagi buat cewek, cocok tuh. Tapi…fenomenanya kan ‘gak begitu. Nurse itu selalu dipandang sebelah mata. Dianggap profesi yang gimana...gitu, rendahan ’nkali ya? Apalagi memang opini nurse sebagai pembantu dokter udah cukup melekat di masyarakat kita.

A: Tapi memang bener kan?
I: Wah, nggak! Nurse itu juga butuh dasar ilmu, lho. Gak asal gasak. Jadi nurse harus punya ilmu dan skill.

A: O...trus kamu pinginnya gimana?
I: Ya...lebih baik dari sekarang, lah. Nurse itu kan mitra dokter, harus sejajar. Dokter bisa nyuruh nurse, kenapa nurse gak bisa nyuruh dokter?

A: Berarti seorang nurse juga boleh donk jadi istri dokter?
I: Maksudnya?

A: Pelangi di matamu.
I: O...itu film kebangsaan! hehehe...

A: Kalo dunia pendidikan, gimana?
I: Wah...ketinggalan!!! Bangsa kita ini paling bodoh, lho. Cuma pemimpinnya aja yang pinter (pinter bohongi rakyatnya). Sekolah-sekolah dibakar, biaya sekolah mahal, jumlah guru yang berpotensi pun sedikit.

A: Ya...testing pegneg-nya aja KKN, gimana mau berpotensi...
I: Betul itu!

A: Kalo dunia Islam sendiri gimana?
I: Gak jauh beda! Islam sedang terpuruk.

A: Kok bisa ya?
I: Umat Islam terlalu euforia sama kejayaan masa lalunya sampai-sampai lengah. Sekarang musuh menyerang dari semua sudut, kita masih musuhan sama saudara sendiri.

A: Intinya gak boleh musuhan...
I: Betul! Ukhuwah itu nomor satu. Marah boleh, tapi gak boleh lebih dari 3 hari.

A: Kalau begitu, apapun yang terjadi, kamu gak boleh marah dong sama kita.
I: Wah, itu lain!

A: Sama, ah!
I: Terserah, tapi aku yakin, suatu saat Islam pasti akan jaya lagi.

A: Ehm,...kalo jodoh gimana?
I: Gimana ya?! Gak berani berspekulasi, karena gimana kita begitulah jodoh kita kelak.

A: Seperti “Dau Ming Tse”? hehehe…
I: Kita liat saja nanti. Kalo dapet dia, aku-nya pasti kayak dia juga kepribadiannya.

A: Pinginnya yang gimana?
I: Yang shaleh donk!

A: Kalo harus married selagi kuliah?
I: Gak kebayang! Pasti dimarahi ortu!

A: Lho?!
I: Iya! Ortu pinginnya selesai kuliah dulu.


A: O...kalau dapet jodoh yang lebih muda?
I: Susah! Ortu pinginnya yang lebih tua. Yah, (kalo dapet) paling-paling entar manipulasi umurnya.

A: Rencana ya?
I: Ah, nggak,...jaga-jaga aja.
A: O...begitu. Thanks deh, wawancaranya, ngantuk nih!

(Note: Wawancara ini berlangsung tanpa sepengetahuan nara sumber. Telah melalui proses editing. Wawancara berlangsung beberapa kali di tempat yang berbeda.)
___________________________________________________

Untuk Hazraty.
Semoga Allah swt merahmatimu.
Terima kasih untuk segala kenangan yang tercipta.
Walau tak juga dapat bertemu denganmu seberapa pun besar usaha, segala puji bagi Allah yang telah menyempatkan kita untuk saling menghaturkan maaf di detik terakhir harimu di dunia.
Dan, meski tak seperti kebiasaan kita dahulu setelah selesai menunaikan shalat Ied di mesjid itu, tetap kuucapkan kepadamu salam di hari mulia Idul Adha, ”Taqabbalallahu minna wa minkum”.

Monday, March 22, 2010

Mesjid Raya Baiturrahman dari Segala Posisi








Hasil jepretan Master Ika...:)
diedit sedemikian rupa untuk menampilkan segi ke-pro-an sang Master...
(yang walopun tidak...)

Mengenal Asepuster

Apa itu Asepuster? Well, aku yakin tidak seorang pun yang familiar dengan kata ini kecuali yang mengerti bahasa Belanda, yang itu pun aku juga yakin bakal berpikir-pikir ke arah kesesatan, secara kata ini telah kumodifikasi sedemikian rupa sehingga gampang ditulis dan dieja dalam EYD bahasa native-ku tercinta… itulah bahasa Indonesia.

Lalu, apa pula kata Asepuster itu dalam terminologi aselinya?...Uhm, itu sebetulnya kata serapan dari Assepoester, dari bahasa Belanda, yang mana merupakan versi lain dari Cinderella, yang di edisi bahasa Inggris-nya.

Terus, mengapa juga aku pasang-pasang kata itu jadi username-ku diberbagai penjuru web? Ehe, itu karena tak lain dan tak bukan akibat asal-usul nenek moyang keluarga aku juga. Yah, kalo mau disalah-salahin, maka salahkanlah mereka itu…nyehehe…

Konon, katanya. Kata siapa? Kata orang tua, saudara-saudara, handai-taulan, ahli famili, dari cabang nyokap, alias my mom, atau bisa disebut juga, ibu kandung aku…dan adek-adek aku yang laen, bahwa nenek kandung-ku, yaitu ibu nya ibu kandung-ku (aish, repot banget ngejelasin family tree inih ya?), mempunyai seorang ayah yang bercita-rasa Arabian dan berkulit item-item gitu, dan seorang ibu yang peranakan Belanda dan berkulit putih-putih melati Ali Baba. Begitulah. Maka, kemudian lahirlah kakak nenekku yang berhasil mendapatkan gen Belanda-nya sehingga berkulit putih jua, lalu nenekku, plus dua orang adeknya yang kesemuanya bernasib seperti sang ayah…huhu…memanglah nasib…

Jadi, tidak mengherankan kalau ibuku beserta adek-adeknya, dan keturunan-keturunan mereka juga tidak mewarisi unsur-unsur ke-Belanda-annya, kecuali kenyataan bahwa adekku yang bungsu punya warna iris yang coklat-terang-bening-transparan gak jelas gitu yang mengakibatkan dia terlihat berbeda dari kita sekeluarga. Plus, tinggi badan nya juga… (iri-iri-iri.co.id)

Sehingga pula, kalau aku berinisiatif mengatakan bila aku punya nenek moyang orang Belanda, semua orang yang kukatai menjadi menarik diri disertai gelengan kepala dan ucapan-ucapan yang menyiratkan ketidakpercayaan yang kuat dan signifikan. Oh, benar-benar suatu cobaan…membuat aku bisa merasakan betapa susahnya ketika Rasul saw berusaha menyebarkan dakwah Islam di depan para mereka-mereka yang menentangnya…sungguh perjuangan yang berat lagi sulit… (Oke, memang bukan analogi yang sepadan, tapi kira-kira begitulah…hehe)

Ah, kita kembali ke topik semula jadi.
Me-recall ingatan tentang kenapa harus kata Asepuster yang kupilih diantara sekian milyar vocab bahasa Belanda, aku tidak begitu mengerti juga. Lho?! Eh, maksudnya, tidak ada alasan spesifik kenapa aku harus pakai kata itu. Yah, maklumlah, kalau kita sudah suka, maka tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Intinya, tidak usahlah dibahas…ahehe… (melarikan diri…)

Tapi, bisa jadi mungkin karena aku suka karakter Cinderella, meskipun ada pembahasan bahwa sebenarnya tokoh Cinderella itu tergolong pemalas dan tidak suka berusaha…tokoh yang hanya mau menunggu datangnya sang Pangeran, tidak mencarinya keluar…hanya menanti dan menanti sampai sang Pangeran berhasil menemukannya dan menolongnya dari lembah penjajahan si ibu saudara-saudara tirinya…hanya seperti itulah…

Biar begitu, dalam persepsiku yang naïf ini, Cinderella bukan bermaksud demikian. Dia menjadi terlihat santai itu hanya karena karakter dirinya yang teeerlalu baik…, saking baiknya ia tidak punya maksud bahkan tersiratpun tidak di dalam hatinya untuk membalas perlakuan dari ibu dan saudara-saudara tirinya itu sengaja kejam dan kasar terhadapnya.

Kisah Cinderella hanya manifestasi usaha sang pengarang untuk menghadirkan sesosok profil yang lemah lembut dan sangat pemaaf sebagai upaya memotivasi dunia bahwa sehitam apapun kejahatan yang ada, pada akhirnya hanya…dan memang hanya…kebaikan yang murni dari hati sajalah yang mampu mendobrak dinding-dinding angkuh keburukan hidup. Ya, memang demikian lah adanya. Terserah saja bila ada yang tidak sepaham denganku, tapi di ujung cerita akan selalu ditutup oleh ketulusan dan kebaikan hati manusia.

.Quod Erat Demonstratum.

Sunday, March 21, 2010

A Hi in Korean

안녕하세요?

이것은 한국의 인사입니다
내 이름은 Ika입니다...



---------------------------------------
만나서 반가워요
이 블로그로 많이 사랑해주세요 ^^