Configuration

"between the good and the bad is where

you'll find me reaching for heaven"















FrenshiPath

Daisypath - Personal pictureDaisypath Friendship tickers

Friday, July 8, 2011

Nomaden? No Problemo...

Entah sejak kapan aku merasa tinggal pindah-pindah alias tidak menetap lama di satu tempat itu tidak masalah... dan bahkan justru terasa menyenangkan.

Padahal waktu aku kecil, aku benci sebenci-bencinya kalau aku harus pindah tempat tinggal sementara aku masih sangat menikmati tinggal dan bermain dengan teman-temanku di sekitar lingkungan rumahku dulu.

Pada dasarnya aku kecil tidak begitu suka beradaptasi dengan lingkungan yang baru karena hal itu seperti seolah-olah keluar dari zona aman dan nyaman dan kemudian mendadak terlempar ke dunia asing yang lalu memaksaku membuka ruang pribadi dan mencoba berakrab ria dengan individu-individu asing lainnya. Begitu  beresiko. Pikirku selalu.

Itulah aku dulu.

Tidak suka rasa nyaman yang sudah kupupuk lama tiba-tiba tercerabut paksa, ditambah pula dengan pergantian atmosfir di sekeliling zona hidupku.

Begitulah aku, di usiaku yang masih sangat kanak. Dengan benak yang selalu diliputi kecemasan tertolak di lingkungan tinggal baru.

Tapi, entah sejak kapan. Entah karena aku telah begitu terbiasa hidup tidak tetap, atau karena aku memang tidak lagi ambil pusing dengan perubahan kondisi di sekitarku, aku sekarang tidak apa-apa.

Tidak masalah aku tinggal dimana. Aku tidak merasa cemas lagi. Tidak lagi seperti saat aku kecil ketika orang tuaku berencana pindah dan kemudian aku melancarkan aksi ngambek sebagai protes karena aku menolak pindah-pindah tempat tinggal.

Aku sekarang justru kebalikannya. Menjadi begitu bersemangat, kala aku bisa tinggal di tempat dan lingkungan yang sama sekali asing dan baru. Yang sama sekali tidak kukenal, dan malah menuntutku untuk bisa beradaptasi dengan baik, agar dapat hidup berdampingan dan bersosialisasi dengan sekitarku. Sesuatu yang dulu amat sangat kuhindari.

Sesuatu yang kini amat kucari-cari dan kusyukuri.

--- Nomaden. Itu istilah yang kupakai untuk menyebut 'kegiatan' pindahan keluargaku dari satu kota ke kota lain di jajaran kepulauan Indo Raya ini.

Waktu aku masih kuliah dulu, kalau ada yang bertanya aku berasal dari mana, aku selalu menjawab, "Dari Sigli."

Ya, dari Sigli, karena kota Sigli itu adalah kota tempat aku dibesarkan. Dan juga kota tempat aku menetap cukup lama.

Tapi, benarkah cukup lama? Dibandingkan kota Banda Aceh ini, yang kini kutinggali?

Let's see.

Aku dilahirkan di wilayah Pidie, dimana Sigli adalah ibukotanya. Kemudian, umur 1 tahun aku diboyong orangtuaku ke Banda Aceh, berhubung bapakku ditempatkan dinas kerja di sana. Aku tinggal selama 2 tahunan.

Dilanjutkan ke Yogya, karena bapakku melanjutkan kuliah S1-nya. Sehingga aku balita, masuk TK, dan menetap selama kurang lebih 2 tahunan di Yogya, plus diselingi tinggal di kota asal ibuku, Semarang.

Pulang dari Jawa, aku kembali ke Sigli, bersekolah SD di daerah Gigieng, dekat dengan asal bapakku, sampai kelas 2, tapi di pertengahan kelas 2, bapakku di-mutasi kembali ke Banda Aceh. Maka, berlanjutlah hidupku hingga kelas 4 di SD 20 di kota ini.

Lalu, lagi-lagi, keluargaku pindah ke Sigli. Aku menyambung kelas 5-ku di SD 3 hingga tamat.

Ternyata, kami tetap tinggal di Sigli sampai beberapa tahun setelahnya, sehingga aku bisa bernafas lega karena aku tidak perlu sebentar-bentar pindah lokasi tempat tinggal dan belajar adaptasi yang sangat tidak kusukai itu.

Aku remaja melanjutkan bersekolah di SMP 1 hingga selesai, lalu ke SMA 1, juga hingga selesai. Tetap di kota Sigli tercinta ini. 

Hm, kalau dijumlahkan, itu berarti sekitar 8 tahunan lamanya aku menghirup udara kota Sigli. Lalu, bila kuhitung totalnya semenjak aku lahir, maka sudah 11 tahunan aku 'numpang' hidup di sini. Di daerah asal bapakku.

Nah, kalau begitu, sudah berapa lama aku 'menumpang' tinggal di kota Banda Aceh, yang hingga saat ini masih kutinggali?

Dari sejak aku tamat SMA, aku memilih kuliah S1 di Banda Aceh, dan setelah menamatkan jenjang S1, aku tetap ada di sini kurang lebih 1 tahun karena sibuk menyiapkan diri untuk menyambung kuliah S2 disambi dengan kerja serabutan di mana-mana. Terhitung, aku menetap 6 tahunan di ibukota provinsi Aceh ini.

Di akhir 2007 aku memulai perjalanan jauhku untuk pertama kali, sendirian. Aku kuliah S2 di Amerika selama 16 bulan. Lalu, setelah kembali dari sana, aku sempat mencicipi tinggal di Seoul, Korea untuk 3 bulan. Seusai dari Korea, aku kembali ke Aceh, tepatnya di Banda Aceh ini.

Bila ingin diperjelas, sekembalinya aku dari studi S2, aku langsung menetap di Banda Aceh, dan hanya sesekali 'mudik' ke Sigli, untuk liburan, berlebaran, atau ziarah ke makam bapakku.

Praktis, hitungan kasarnya, dari kecil hingga sekarang, aku sudah menjadi warga kota Banda Aceh ini secara tidak kusadari. Hampir 13 tahun lamanya aku di kota ini. Kota yang sejatinya bukan kota asal bapakku, apatah lagi asal ibuku.

--- Dan, seperti itulah. Di lebih seperempat abad hidupku di dunia, aku sudah mulai berdamai dengan keadaan. Bisa dikatakan, aku mulai belajar memahami bahwa hidup itu tidak melulu berisi dengan kenyamanan. Seringkali kita harus mengambil 'resiko' itu and try it out... Toh, hidup itu memang perlu tantangan dan 'sedikit' atau 'banyak' perjuangan. Tanpa itu, akankah hidup itu terasa menyenangkan? Life is boring if nothing happens, am I right?

Sungguh, bila dahulu ketika kecil aku ingin semuanya tetap sama dan tidak berubah, maka sekarang aku berharap akan selalu ada percikan-percikan perubahan yang bisa membuatku terus ingin tahu dan belajar akan arti dan maksud dari hadirnya perubahan itu.

Karena aku dan kamu tahu, kita semua tahu, bahwa perubahan itu abadi... dan kita tidak perlu lari lagi.

No comments:

Post a Comment