Configuration

"between the good and the bad is where

you'll find me reaching for heaven"















FrenshiPath

Daisypath - Personal pictureDaisypath Friendship tickers

Thursday, April 21, 2011

"Are You Uzbekistan?"

Itulah kata-kata yang ditanyakan padaku yang tengah duduk termangu menunggu jadwal penerbangan kembali ke Indonesia di bandara Incheon, Korea, tahun 2009 lalu.

Meskipun kaget tiba-tiba ditodong pertanyaan begitu, otakku masih sempat mencerna isi pertanyaan sang pria penanya tersebut yang sekilas, wajahnya seperti orang-orang Afghanistan... kurang lebihlah.

Dia muncul agak tergesa-gesa, yah, mungkin karena dia memang sedang dalam rangka menjemput seseorang di bandara itu.

Aku yang tengah bengong asoy: "Eh, no..." refleks mengatakan yang sejujurnya saja... *emang mo bilang apa lagi???

Diantara-antara kebingungan itu, aku sangat berhusnuzon ke sang pria malang tersebut, karena dia dengan begitu lugunya menganggap aku keturunan Uzbekistan... hohoho... kapan lagi ada orang yang bakal bilang begitu ke aku yang lemah ini... *You're cool, man! huehehe

Tapi. Waktu aku menceritakan kembali kisah syahdu ini, teman-temanku yang tak bisa dicela itu malah menyangsikan keabsahannya. Mereka menuduh aku berhalusinasi dan berfantasi untuk diakui sebagai 'orang luar negeri'... ugh, berat sekali menerima kenyataan penolakan begitu rupa... aku langsung membayangkan penderitaan Rasul dahulu di kala harus menyebarkan panji-panji kebenaran dan ditolak kaumnya... ah, berat nian... *melebai

  • Ada lagi.

Sewaktu aku masih kuliah di Amrik, aku berkesempatan mengalami pemutihan warna kulit dan menjadi lebih bersih (tsaaah) yang disebabkan fenomena pergantian musim-musim yang didominasi sinar matahari kurang terik (kecuali kalo musim panas) dan dingin abis: walhasil cuacanya keseringan sejuk dibanding panas... maka, akhirnya timbullah dampak positif ke kulit juga. Sangat menguntungkan. *gak usah repot beli sunblock juga, euy...

Jadi, gara-gara (mungkin) berubah lebih terang bin cerah begitu si kulit muka aku yang cuma satu ini, ada saja kejadian salah tafsir kebangsaan yang menimpa diri ini.
bagai pinang dibelah ketupat... ga nyambung amat...

Pas di kapan itu, Thida, seorang teman aku dari Kamboja mengajak makan malam seorang teman sekelasnya yang berasal dari Cina. Karena aku kebetulan sedang tidak ada kerjaan, si Thida menyuruh aku buat menjemput temannya itu di ruang lobby asrama kami. Habis kujemput itu, sang teman dari Cina tersebut tiba-tiba bertanya tentang aku ke si Thida... apakah aku itu sodara sepupunya??? Huahaha...
*gubraks banget kan tuh, wong aku pake jilbab terang-benderang gitu bisa-bisanya disangka sepupuan sama si Thida yang kebetulan agamanya Budha. Ckckck, kalo aku gak pake jilbab, entah pulalah... ahehe...

  • Masih ada lagi.

Kalau aku di atas tadi disangka bersepupu sama orang Kamboja, nah yang ini dikira beneran anak Cina. Aseli barang, mpok.

Teman se-apartemen aku, Nina, adalah orang Cina. Berhubung aku akan kembali ke Indo Raya karena sudah selesai kuliah, kamar aku akan disewakan ke orang lain, yang kebenaran adalah anak Cina juga. Jadilah, di sore yang baik itu aku berjumpa dengan si cewek  calon pengganti aku buat menunjukkan rupa kamar yang bakal ditempati oleh dia ke depannya.

Pas jumpa...

Nina: Ika, this is my friend, Aline. (kita anggap aja begitu, soalnya aku lupa nama dia... hehe)
Aline: (mengira aku satu spesies dengan mereka) Ni hao...?
Aku: (speechless. itu... bahasa Mandarin kan, ya?) Eh, ni hao... *menerapkan ilmu hasil nonton drama Taiwan... sok tahu aja lah
Nina: (segera sadar apa yang tengah terjadi) Aline, Ika is from Indonesia. She can't speak Mandarin.
Aline: (dalam hatinya mungkin merasa malang sekali) Oh, I'm sorry...
Aku: No... it's fine... hehe
*sebetulnya aku mah asik-asik aja kalo mau dikira gitu juga... mhehehe

  • Kesimpulan kasus:

Kenapa enggak ada yang ngira aku orang Eropa, sih???
Sabar-sabar aja deh, neng...

No comments:

Post a Comment